RSS

IBNU SINA (Studi Biografi, Karya dan Pemikiran Filsafatnya)

oleh : Taufiq Hidayatillah

PENDAHULUAN

      Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal dibicarakan oleh banyak orang, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad.

        Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.[1]

BIOGRAFI

        Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibnu Abdillah Ibn Sina. Dalam dunia Barat beliau dikenal dengan nama Avvicenna.[2] Ia lahir pada Shafar 370 H/Agustus 980 M di Ifsyina (negeri kecil dekat Charmitan)[3], suatu tempat dekatBukhara.[4] Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman.[5]Beliau dibesarkan diBukharaia serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan berhasil menghafal Al-Qur’an.[6] Dari Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Eucliddan Al-MagestPtolemus. Setelah itu ia mendalami ilmu agama dan metafisika Plato dan Arsitoteles.Dengan kekuatan kecerdasannya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang-cabangnya, ia berhasil memahami metafisika-nya Arisstoteles, ketika ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li Aristho -nya Al-Farabi.[7]

       Ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Meskipun secara teori ia belum matang, tetapi ia banyak melakukan keberhasilan dalam mengobati orang-orang sakit.[8]Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku-buku filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan agar diberikan petunjuk, maka didalam tidurnya itu Tuhan memberikan pemecahan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.[9]

         Umur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibnu Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat akses untuk mengunjungi perpustakaan istanayang terlengkap yaitu Kutub Khana.[10] Perpustakaan tersebut terbakar dan orang-orang menuduh Ibn Sina sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu.[11]

      Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia juga orang yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia juga yang mula-mula mempraktekkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dan dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa yang kini disebut psikoterapi .

     Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam-nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan-peperangan yang merajalela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas.”[12]

       Selain sebagai filosof dan dokter, iajugadi kenal sebagai penyair. Ilmu-ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, logika, kedokteran dan kimia, ia tulis dalam bentuk syair. Kebanyakan buku-bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Orang-orang Eropa mulai mempergunakan buku-buku itu sebagai referensi dipelbagai universitas.Oleh karena itu nama Ibnu Sina pada abad pertengahan sangat berpengaruh di Eropa.[13] Ia meninggal pada tahun 428 H (1037 M) di Hamdzan.[14]

KARYA – KARYA

      Karya-karya Ibnu Sina yang termasyhur dalam Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al-Isyarat. An-Najat adalah ringkasan dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, berisikan tentang logika dan hikmah. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan- karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya.[15]

      Walaupun ia sibuk dengan soal negara, tetapi ia berhasil menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling masyhur dalam bidang kedokteran adalah “Al-Qanun”  yang berisikan pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini dterjemahkan ke bahasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universitas Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental “As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam.[16]

      Diantara karangan – karangan Ibnu Sina adalah :

  1. Buku mengenai politik seperti: Risalah As-Siyasah, Fi Isbati an-Nubuwah, Al-Arzaq,
  2. Buku mengenai Tafsir seperti: Surah al-Ikhlas, Surah al-Falaq, Surah an-Nas, Surah al-Mu’awizataini, Surah al-A’la.
  3. Buku Psikologi seperti: An-Najat.
  4. Buku ilmu kedokteran seperti: Al-Qanun fi al-Thibb[17], al-Urjuzah fi At-Tibi, al-Adwiyah al-Qolbiyah, Kitabuhu al-Qoulani, Majmu’ah Ibn Sina al-Kubra, Sadidiyya.
  5. 5.      Buku tentang Logika seperti: Al-Isyarat wat Tanbihat, al-Isyaquji, Mujiz, Kabir wa Shaghir[18].
  6. Buku tentang musik seperti: Al-Musiqa.
  7. Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
  8. 8.      Buku Fisika seperti: fi Aqsami al-Ulumi al-Aqliyah
  9. Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.
  10. Buku filsafat seperti As-Syifa’, Hikmah al-Masyiriqiyyin[19], Kitabu al-Insyaf[20],Danesh Nameh, Kitabu al-Hudud[21], Uyun-ul Hikmah[22].
  11. dan sebagainya.[23]

       Meskipun ia di akui sebagai seorang tokoh dalam keimanan, ibadah dan keilmuan, tetapi baginya minum-minuman keras itu boleh, selama tidak untuk memuaskan hawa nafsu. Minum-minuman keras dilarang karena bisa menimbulkan permusuhan dan pertikaian, sedangkan apabila ia minum tidak demikian malah menajamkan pikiran.Didalam al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah berjanji kepada Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan menghormati syari’at tidak melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak akan minum-minuman keras untuk memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan.

PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU SINA

1. Filsafat Wujud Ketuhanan.

Dalam paham Ibnu Sina,essensi terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujud-lah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Kombinasi essensi dan wujud dapat dibagi :

1)      Essensi yang tak dapat mempunyai wujud (mumtani’al-wujud) yaitu sesuatu yang mustahil berwujud  (impossible being). Contohnya rasa sakit.

2)      Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud (mumkin al-wujud) yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.

3)      Essensi yang tak boleh dan tidak mesti mempunyai wujud (wijib al-wujud). Disini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu kesatuan. Di sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi ini mesti dan wajib mempunyai wujud selama lamanya. Wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud.[24]

     Dalam pembagian wujud wajib dan mumkin, Ibnu Sina terpengaruh oleh pembagian wujud para mutakallimun antara lain: baharu (al-hadits) dan Qadim (al-Qadim).[25] Karena dalil mereka tentang wujud Allah didasarkan pada “hadits” dan “qadim” sehingga, setiap orang yang ada selain Allah adalah baharu, yakni didahului oleh zaman. Pendirian ini mengakibatkan lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang mendahului alam mahluk ini, sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan Maha Pemurah pada waktu lain.Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan tidak mesti wajib.[26] Untuk menghindari keadaan Tuhan yang demikian itu, Ibnu Sina telah menyatakan sejak awal “bahwa sebab kebutuhan kepada al-wajib (Tuhan) adalah mungkin, bukan baharu”. Pernyataan ini akan membawa kepada iradah Allah sejak Qadim, sebelum Zaman.[27]

       Dari pendapat tersebut terdapat perbedaan antara pemikiran para mutakallimin dengan pemikiran Ibnu Sina. Dimana para mutakallimin antara qadim dan baharu lebih sesuai dengan ajaran agama tentang Tuhan yang menjadikan alam menurut kehendak-Nya, sedangkan dalil Ibnu Sina dalam dirinya terkandung pemikiran Yunani bahwa Tuhan yang tunduk dibawah “kemestian”, sehingga perbuatan-Nya telah ada sekaligus sejak qadim.

 “Perbuatan Ilahi” dalam pemikiran Ibnu Sina dapat disimpulkan dalam 4 catatan sebagai berikut :

            Pertama, perbuatan yang tidak kontinu (ghairi mutajaddid) yaitu perbuatan yang telah selesai sebelum zaman dan tidak ada lagi yang baharu. Dalam kitab An-Najat (hal. 372) dijelaskan bahwaadanyawajib wujud (Tuhan) itu adalah keseharusan dari segala segi, sehingga tidak terlambat wujud lain, dan semua yang mungkin menjadi wajib dengan-Nya. Tidak ada bagi-Nya kehendak yang baru, tidak ada tabi’at yang baru, tidak ada ilmu yang baru dan tidak ada suatu sifat dzat-Nya yang baru.Perbuatan Allah telah selesai sejak qadim, tidak ada sesuatu yang baru dalam pemikiran Ibnu Sina, seolah-olah alam ini tidak perlu lagi kepada Allah sesudah diciptakan.

       Kedua, perbuatan Ilahi itu tidak mempunyai tujuan apapun. Sehingga adanya alam merupakan perbuatan mekanis belaka atas adanya wajib al-wujud.

      Ketiga, jika perbuatan Ilahi telah selesai dan tidak mengandung sesuatu maksud, maka akan terbentuk “hukum kemestian”, seperti pekerjaan mekanis, bukan dari sesuatu pilihan dan kehendak bebas.

      Keempat, perbuatan itu hanyalah “memberi wujud” dalam bentuk tertentu. Untuk memberi wujud ini Ibnu Sina menyebutnya dengan beberapa nama, seperti: shudur (keluar), faidh (melimpah), luzum (mesti), wujub ‘anhu (wajib darinya). Hal ini digunakan oleh Ibnu Sina untuk membebaskan diri dari pikiran “Penciptaan Agamawi”, karena ia berada di persimpangan jalan anatara mempergunakan konsep Tuhan sebagai “sebab pembuat” (Illah fa’ilah) seperti ajaran agama dengan konsep Tuhan sebagai sebab tujuan (Illah ghaiyyah) yang berperan sebagai pemberi kepada materi sehingga bergerak ke arahnya secara gradual untuk memperoleh kesempurnaan.[28]

  1. Filsafat Jiwa

     Ibnu Sina memberikan perhatian yang khusus terhadap pembahasan tentang jiwa, Memang tidak sukar untuk mencari unsur-unsur pikiran yang membentuk teorinya tentang kejiwaan, seperti pikiran-pikiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama pikiran-pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai konsep sendiri dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan metafisika.

     Dalam segi fisika, ia banyak memakai metode eksperimen dan banyak terpengaruh oleh pembahasan lapangan kedokteran. Dalam segi metafisika dia lebih mendekati pendapat-pendapat filosof modern.[29]Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah filsafatnya tentang jiwa.Sebagaimana Al-Farabi,iajuga menganut faham emanasi (pancaran). Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.

       Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat: sifat wajib wujud-nya sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujud-nya jika ditinjau dari hakekat dirinya. Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran: Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya.[30]Dari pemkiran tentang Tuhan timbul akal-akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujud-nya timbul jiwa-jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujud-nya timbul di langit.

       Secara garis besar Jiwa dapat dibagi menjadi dua segi yaitu:

1)      Segi fisika yang membicarakan tentang macam-macamnya jiwa (jiwa tumbuhan, jiwa hewan dan jiwa manusia).[31]

Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian :

a)      Jiwa tumbuh-tumbuhan mempunyai daya:Makan (nutrition), Tumbuh (growth), Berkembang biak (reproduction)

b)      Jiwa binatangmempunyai daya:Gerak (locomotion), Menangkap (perception) dengan dua bagian :

  1. Menagkap dari luar dengan panca indera. Terdiri dari lima unsur; sentuh, perasa, pencium, penglihatan, pendengaran.[32]
  2. Menangkap dari dalam dengan indera-indera dalam. Terdiri dari lima indera; indra al-hiss al-musytarakberfungsi menerima segala yang ditangkap oleh indera luar, indra al-khayyalberfungsi menyimpan apa yang ditangkap indera bersama, indera al-mutakhayyilatberfungsi menyusun apa yang disimpan oleh khayyal, indera estimasi berfungsi menangkap hal-hal yang abstrak. Seperti  menghindari sesuatu yang dibenci oleh hewan tersebut, dan indera rekoleksi berfungsi menyimpan hal-hal abstrak yang diterima dari estimasi.[33]

c)      Jiwa manusia mempunyai daya :

Daya Praktis berhubungan dengan badan dan daya Teoritis berhubungan dengan hal-hal abstrak.Daya teoritis  mempunyai tingkatan:

  1. Akal materiil yang semata-mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.
  2. Akal al-malakat, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal abstrak.
  3. Akal aktual, yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak.
  4. Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.[34]

2)      Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud jiwa dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa.[35]

Ada empat dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Sina untuk membuktikan adanya jiwa yaitu

a)      Dalil Alam Kejiwaan

Pada diri kita ada peristiwa yang tidak mungkin di tafsirkan kecuali sesudah mengakui adanya jiwa. Peristiwa- peristiwa tersebut adalah gerak dan pengenalan.

 Gerak ada dua macam yaitu :

  1. Gerak paksaan (harakah qahriah) yang timbul sebagai akibat dorongan dari luar dan yang menimpa sesuatu benda kemudian menggerakkannya.
  2. Gerak bukan paksaan, dan gerak ini terbagi menjadi dua yaitu :

a)      Gerak sesuai dengan ketentuan hukum alam, seperti jatuhnya sesuatu dari atas ke bawah.

b)      Gerak diam benda yang terjadi dengan melawan hukum alam, seperti manusia yang berjalan di bumi, sedang berat badan seharusnya menyebabkan ia diam, atau seperti burung yang terbang di udara, seharusnya jatuh atau tetap di sarangnya di atas bumi. Gerak yang berlawanan dengan ketentuan alam tersebut menghendaki adanya penggerak khusus yang melebihi unsur-unsur benda yang bergerak. Penggerak tersebut adalah jiwa.

      Pengenalan tidak dimiliki oleh semua mahluk, tetapi hanya di miliki oleh sebagiannya. Yang memiliki pengenalan ini menunjukkan adanya kekuatan-kekuatan lain yang tidak terdapat pada lainnya. Begitulah isi dalil natural-psikologi dari Ibnu Sina yang didasarkan atas buku De Anima (Jiwa) dan Physics, kedua-duanya dari Aristoteles.Namun dalil Ibnu Sina tersebut banyak berisi kelemahan-kelemahan antara lain bahwa natural (physic) pada dalil tersebut dihalalkan. Dalil tersebut baru mempunyai nilai kalau sekurangnya benda-benda tersebut hanya terdiri dari unsur-unsur yang satu macam, sedang benda-benda tersebut sebenarnya berbeda susunannya (unsur-unsurnya).

    Oleh karena itu maka tidak ada keberatannya untuk mengatakan bahwa benda-benda yang bergerakmelawan ketentuan alam berjalan sesuai dengan tabiatnya yang khas dan berisi unsur-unsur yang memungkinkan ia bergerak. Sekarang ini banyak alat-alat (mesin ) yang bergerak dengan gerak yyang berlawanan dengan hukum alam, namun seorang pun tidak mengira bahwa alat-alat (mesin-mesin) tersebut berisi jiwa atau kekuatan lain yang tidak terlihat dan yang menggerakkannya. Ibnu Sina sendiri menyadari kelemahan dalil tersebut. Oleh karena itu dalam kitab-kitab yang dikarang, seperti al-syifa dan al-Isyarat, dalil tersebut disebutkan sambil lalu saja, dan ia lebih mengutamakan dalil-dalil yang didasarkan atas segi-segi pikiran dan jiwa.[36]

b)      Dalil Aku dan Kesatuan Gejala Kejiwaan.

      Menurut Ibnu Sina apabila seorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara kepada orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Jadi ketika kita mengatakan saya keluar atau saya tidur , maka bukan gerak kaki, atau pemejaman mata yang dimaksudkan, tetapi hakikat kita dan seluruh pribadi kita.[37]

c)      Dalil Kelangsungan (kontinuitas).

       Dalil ini mengatakan bahwa masa sekarang mempunyai hubungan dengan masa lampau dan masa depan. Kehidupan ruh pada pagi ini ada hubungannya dengan kehidupan ruh yang kemarin, bahkan kehidupan yang terjadi sekarang ada hubungannya dengan kehidupan yang terjadi beberapa tahun yang telah lewat. Perubahan tersebut saling berhubungan  karena adanya jiwa.Ibnu Sina dengan dalil kelangsungan tersebut telah membuka ciri kehidupan pikiran yang paling khas dan mencerminkan penyelidikan dan pembahasannya yang mendalam.[38]

d)     Hukum Orang Terbang atau Tergantung di Udara.

     Dalil ini adalahn yang paling jelas menunjukkan intelektualitas Ibnu Sina. Meskipun dalil tersebut didasarkan atas perkiraan dan khayalan. Dalil tersebut sebagai berikut: jika ada seseorang yang bisa menggantungkan dirinya di udara dan tidak merasakan sesuatu persentuhan atau bentrokan atau perlawanan.Kemudian ia menutup matanya dan tidak melihat sama sekali apa yang ada di sekelilingnya. Maka orang tersebut akan menyadari bahwa dirinya itu ada.Jika ia memikirkan tentang wujud adanya tangan dan kakinya, berarti wujud penggambaran dirinya membuktikan bahwa eksistensi jiwa dalam organ itu ada.[39]

      Menurut Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Sungguh pun jiwa manusia tidak mempunyai fungsi – fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berfikir, jiwa masih berhajat pada badan karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berfikir.[40]

C. Falsafat Wahyu dan Nabi

      Gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang dibangun dalam empat tingkatan: intelektual, “imajinatif”, keajaiban, dan sosio-politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan. Perbedaan antara nabi dan filosof yang telah dijelaskan oleh Sirajuddin[41]bahwa seorang nabi adalah manusia pertama, manusia pilihan Tuhan dan tidak peluang bagi filosof untuk menjadi nabi. Sedangkan filosof adalah menusia kedua, manusia yang mempunyai intelektual yang tinggi dan tidak bisa menjadi nabi.

      Dari yang telah dijelaskan sebelumnya, akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil dan tingkatan akal yang terberat adalah akal mustafad. Kebenaran filosof didapat melalui akal mustafad karena perolehan ilham yang merupakan sebuah perjuangan dan latihan yang keras. Sedangkan kebenaran nabi didapat dari malaikat Jibril yang berhubungan dengan nabi melalui akal materiil yang disebut hads (kekuatan suci). Kebenaran nabi itulah yang dinamakan wahyu.[42]

            Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi nama al hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi-nabi.[43]

PENUTUP

-          Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuhan atau hewan mempengaruhi seseorang maka orang itu dapat menyerupai binatang, tetapi jika jiwa manuisa yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaekat dan dekat dengan kesempurnaan.

-          Menurut Ibnu Sina bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan proses emanasi tersebut memancar segala yang ada.

-          Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan mumkinul wujud (jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).

-          Pemikiran tentang kenabian menjelaskan bahwa nabi merupakan manusia yang paling unggul dari filosof karena nabi memiliki akal aktual yang sempurna tanpa latihan, sedangkan filosof mendapatkannya dengan usaha yang keras.

DAFTA PUSTAKA

Azwar. 2007. Pemikiran Ibnu Sina Tentang Jiwa. Skripsi Jurusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Al-Ahwan, Ahmad Fuad. 1984. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Daudy, Ahmad. 1986. Kuliah Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang

Daudy, Ahmad.1984. Segi – Segi Falsafi dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Hanafi, Ahmad. 1986. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Nasution, Harun.1996. Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya. Jakarta:Penerbit Universitas Indonesia.

Nasution, Harun.1992. Falsafat dan Msitisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Husein, Oemar Amin.1975. Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Syarif, MM. 1994.Para Filosof Muslim. Bandung: Mizan.

Dasoeki,Thawil Akhyar.1993.Sebuah Kompilasi Filsafat Islam. Semarang: Dina Utama Semarang.

Abidin, AhmadZaenal.1949. Ibnu Sina (Avecenna) sarjana dan Filosof Dunia. Jakarta: Bulan Bintang.

Munawir, Imam. 1985. Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa.Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Corbin,Henry. Tanpa tahun. History of Islamic Philosophy.  London and New York in association with islamic publications for the institute of ismaili studies London.

Zar,Sirajuddin. 2009.Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya. Jakarta: PT RajaGrafindo persada.


[1]M.M. Syarif, Para Filosof Muslim , (Bandung, Mizan, 1994), hlm. 101. Lihat juga Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Pustaka Firdaus, 1984), hlm. 63.

[2]Azwar, Pemikiran Ibnu Sina Tentang Jiwa. Skripsi Jurusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007, hlm 13-14.

[3]Ibid, hlm 13.

[4]Henry Corbin, History of Islamic Philosophy.  London and New York in association with islamic publications for the institute of ismaili studies London, hlm. 167.

[5]Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Penerbit UniversitasIndonesia, 1996), hlm. 50

[6]Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1986), hlm. 60.

[7]H. Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Siena (Avecenna) Sarjana dan Filosuf Dunia, (Bulan Bintang, 1949), hlm. 49

[8]Ahmad Hanafi, MA, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), hlm. 115. Lihat juga  Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, Pustaka Firdaus, hlm. 65.

[9]Ibid

[10]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya, hlm. 93.

[11]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), hlm. 34.

[12]Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1985), hlm. 332 – 333.

[13]Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam , (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), hlm. 112 -113.

[14]Azwar, Pemikiran Ibnu Sina Tentang Jiwa, hlm 15.

[15]Ibid

[16]Nasir Masruwah, taufik Falsafah Al-Islamiyah, hlm. 119.

[17]Buku ini dijadikan buku pokok pada Universitas Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).

[18]Menerangkan tentang dasar-dasar ilmu logika secara lengkap.

[19]Dalam Britanica Encyclopedia vol II, hal. 915 menyebutkan kemungkinan besar buku ini telah hilang.

[20]Buku tentang Keadilan Sejati.

[21]Berisikan istilah – istilah dan pengertian – pengertian yang dipakai didalam ilmu filsafat

[22]Terdiri atas 10 jilid.

[23]Thawil akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, (Semarang : Dina Utama Semarang, 1993), hlm. 37-39. Lihat juga Azwar, Pemikiran Ibnu Sina Tentang Jiwa, hlm 21.

[24]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, hlm. 39-40

[25]SirajuddinZar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT RajaGrafindo persada, 2009), hlm. 98-99.

[26]Ahmad Daudy, Segi – Segi Pemikiran Falsafi dalam Islam , (Jakarta : Bula Bintang, 1984), hlm. 42

[27]Ibid.

[28]Ibid, hlm. 44 – 46.

[29]Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, hlm. 125 – 126.

[30]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, hlm. 34-35.

[31]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya, hlm 104.

[32]Azwar, Pemikiran Ibnu Sina Tentang Jiwa, hlm. 38-39.

[33]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya, hlm 105.

[34]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya,hlm. 105-106.

[35]Ibid.

[36]Ibid., hlm. 126 – 127.

[37]Ibid., hlm 127.

[38]Ibid.,hlm. 128 – 129.

[39]Ibid, hlm. 108

[40]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam, hlm. 37 – 38.

[41]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam; Filosof dan Filsafatnya, hlm. 95.

[42]Ibid

[43]Harun Nasution, Falsafat dan Msitisme dalam Islam,hlm. 115.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2012 in ARTIKEL

 

Tag: , , , , ,

Mysticisme

     Mistisisme dalam arti yang lebih luas dikatakan sebagai sekumpulan intuitif dan penyatuan dengan dewa atau tuhan melalui kontemplasi dan latihan mental lainnya. Seorang mistisism memahami mistis sebagai suatu peraturan, bahwa gagasan tentang tuhan sebagai aspiritual dan universal seperti menjadi teori tersendiri bagi mereka. Karena, tidak memungkinkan mereka untuk melewati serangkaian abstraksi dan analisis psikologis terlibat dalam praktik mistik yang nyata.

    Mistisisme  merupakan pendekatan terhadap dewa atau tuhan agar ada penyatuan antara diri manusia dengan diri tuhan melalui beberapa tantangan, latihan, ketaatan, kekuatan fisik dan non-fisik yang harus dijalani. Tidak banyak orang yang memiliki hal tersebut, karena ini merupakan hal yang tersulit untuk di praktekkan. Tetapi bagi seorang mistisime, hal itu wajar dan bahkan merupakan suatu keharusan baginya  untuk bersatu dengan tuhan. Harus diingat bahwa mistisisme adalah jantung dari semua sistem keagamaan. Wawasan Mistik, itu diklaim, hanya dapat dicapai dengan langsung, campur tangan ilahi, atau lain dengan kontemplasi ke dalam, logika dan alasan bukan merupakan bagian dari proses. Jika seseorang mencapai pemahaman mistis oleh intervensi ilahi, kemungkinan untuk menghasilkan suatu sistem tertutup pemikiran, yang berarti sistem yang mengklaim memiliki semua pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan kehidupan yang layak.

      Masalah jelas dengan mistisisme adalah bahwa tidak semua mistikus sampai pada kebenaran yang sama. Lebih sering daripada tidak, mereka bertentangan satu sama lain. Sejarah perang secara umum sejarah konflik menentang sistem kepercayaan, dengan mistik sebagai penyebab dasar. Namun, ini ‘melihat’ juga memiliki komponen mistik untuk itu. Sensori bukti penting, tapi intuisi adalah hal terpenting dalam “benar melihat.” Di jantung dari semua sistem keagamaan adalah pandangan anti-kehidupan. Hal ini diwujudkan dalam berbagai cara. Untuk Budha, fokusnya adalah pada penderitaan (dukha). Buddha berusaha untuk menghindari penderitaan dengan berfokus pada metode mistik dari kemiskinan. Demikianlah Buddhisme dimulai dengan masalah yang dibuat oleh dirinya sendiri dan kemudian menawarkan solusi untuk masalah dugaan. Hal ini benar dari agama-agama lain juga, seperti ketika agama Kristen menganggap semua orang menjadi orang berdosa ‘dan kemudian menawarkan cara untuk memiliki dosa-dosa diampuni.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 22, 2012 in ARTIKEL

 

Tag: , , , , ,

Memaknai Tradisi Yasinan

Oleh : Taufiq Hidayatillah

PENDAHULUAN

      Dalam kehidupan sehari-hari agama sudah menjadi kebutuhan bagi manusia. Agama berperan penting dalam memberi arah menuju Tuhan sebagai keseimbangan dan kelangsungan hidup manusia. Agama juga bisa dikatakan sebagai way of life karena menjadi pedoman hidup manusia. Agama juga memiliki fungsi tersendiri bagi manusia baik sebagai fungsi sosial maupun individu. Fungsi tersebut mempunyai kekuatan yang besar dalam menggerakan komunitas sosial. Sehingga dalam keadaan seperti ini, sulit sekali untuk membedakan antara sesuatu yang murni agama dan interpretasi atas agama. Sesuatu yang murni agama, memiliki nilai-nilai sakralitas yang tinggi dan bersifat absolut. Sedangkan sesuatu yang bersifat dinamis merupakan hasil pemikiran manusia terhadap wahyu-wahyu Tuhan.

      Namun, dalam realitasnya, terkadang mengalami kesulitan untuk membedakan antara keduanya karena secara sadar maupun tidak terjadi pencampuradukan makna antara agama yang murni bersumber dari Tuhan dengan pemikiran agama yang bersumber dari manusia. Perkembangan selanjutnya, hasil dari pemikiran agama tidak jarang telah berubah menjadi agama itu sendiri, sehingga ia seakan-akan disakralkan dan berubah menjadi sebuah tradisi keagamaan bagi masyarakat.  Seperti pemahaman seseorang tehadap tradisi Yasinan.

      Tidak mengherankan jika masyarakat cenderung menciptakan tradisi keagamaan sebagai ekspresi atas spitualitasnya, seperti tradisi Yasinan yang masih diyakini oleh masyarakat. Sebagai manusia yang beragama dan patuh pada ajaran agama, sebisa mungkin manusia mendekatkan dirinya kepada Tuhan agar dianggap sebagai manusia yang taat dan patuh pada agama. Tuhan dihadirkan dalam ritual-ritual keagamaan. Dari keadaan tersebut, manusia mendapatkan totalitas kekentraman batin yang tak terdiskripsikan atas pengalaman agama yang dijalaninya.

      Tradisi Yasinan ini merupakan fokus kajian kami dalam memahami sosio-kultural di masyarakat dengan mengambil sampel penelitian di tiga tempat yakni, Pesantren minhajut Tamyiz Yogyakarta, Jatinom Klaten dan Pendoporejo Kulon Progo. Selanjutnya kami sebagai peneliti akan mencari titik temu fungsi Tradisi Yasinan ini bagi masyarakat, karena dalam prakteknya Tradisi Yasinan dalam masyarakat akan berbeda-beda. Namun kami tidak mempermasalahkan dalam pelaksanaannya, melainkan memahami dari sudut pandang peran dan fungsi atas pemaknaan masyarakat terhadap Tradisi Yasinan yang mereka anut.

GAMBARAN UMUM TRADISI YASINAN

      Tradisi pembacaaan Yasinan merupakan tradisi lama yang masih dipegang oleh kalangan masyarakat Indonesia. Tradisi Yasinan ini begitu unik karena hanya ada di Indonesia dan Malaysia. Tradisi ini merupakan bentuk ijtihad para ulama untuk mensyiarkan Islam dengan jalan mengajak masyarakat agraris yang penuh mistis dan animisme untuk mendekatkan diri pada ajaran Islam melalui cinta membaca Al Qur’an, salah satunya Surat Yasin sehingga disebut sebagai Yasinan. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat baik kaum ibu maupun bapak dan juga di kalangan para remaja baik putri maupun putra. Pelaksanaannya pun berbeda-beda seperti ada yang melaksanakannya pada malam hari, siang hari atau sore hari atau hanya pada wktu-waktu tertentu misalnya malam Jum’at, hari ketiga, ketujuh, hari seratus, hari keseribu bagi orang yang meninggal. Semua itu memiliki ketentuan masing-masing daerah.

      Yasinan merupakan sebuah tradisi yang telah mendarah daging bagi masyarakat Jawa khususnya bagi kalangan orang-orang NU, meskipun ada beberapa kalangan Muhammadiyah mengikuti tradisi ini. Terlepas dari pro dan kontra, karena kami tidak mempermasalahkan apakah tradisi Yasinan itu dosa atau tidak. Namun kenyataannya tradisi Yasinan tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Yasinan adalah sebuah kegiatan membaca surat Yasin secara bersama-sama yang dipimpin oleh seorang rais atau kaum, biasnya Yasinan juga dilengkapi dengan bacaan Al Fatihah, dan bacaan tahlil serta ditutup dengan doa dan diamini oleh jamaah.

      Yasinan dilakukan dalam waktu waktu tertentu misalnya malam Jumat yang dilaksanakan di masjid atau dirumah rumah warga secara bergiliran setiap minggunya. Selain pada malam Jum’at yasinan juga dilaksanakan untuk memperingati dan “mengirim” doa bagi keluarga yang telah meninggal pada malam ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan keseribu. Masyarakat mempercayai bahwa dengan membaca surat Yasin maka pahala atas pembacaan itu akan sampai pada si mayat. Ada pula acara Yasinan ini dilakukan untuk meminta hajat kepada Tuhan agar dipermudah dalam mencari rizki maupun meminta hajat agar orang yang sakit dan sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda akan diakhirinya ke hidupan ini sudah jelas, maka surat Yasin menjadi pengantar kepulangannya ke hadirat Allah. Yasin sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila salah satu keluarga ada yang sakit kritis. Surat Yasin dibaca dengan harapan jika bisa sembuh semoga cepat sembuh, dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga cepat diambil oleh-Nya dengan tenang.

      Masyarakat melaksanakan tradisi ini karena turun temurun. Artinya tradisi ini merupakan peninggalan dari nenek moyang mereka, dimana Islam mengadopsinya sebagai bagian dari ritual keagamaan. Dari pelaksanaan tradisi ini maka ada makna yang lain selain dari arti ayat ayat yang dibaca secara bersama sama. Misalkan di daerah Pendoporejo dan Jatinom, setelah pembacaan Yasin selesai, salah seorang warga membentuk komunitas arisan, mengobrol mengenai masalah ta’mir masjid, maupun hanya sekedar makan-makan saja. Mereka tidak mengenal dengan semua tradisi ini apakah tradisi ini ada dalam ajaran Islam atau tidak, yang  terpenting  bagi mereka adalah melaksanakan tradisi ini yang diajarkan oleh orang sebelum mereka. Tidak begitu berbeda dengan di pondok pesantren Minhajut Tamyiz, hanya saja seusai Pembacaan Yasinan mereka meneruskannya dengan pembacaan maulid nabi, baru setelah itu acara makan-makan dan mengobrol.

PELAKSANAAN YASINAN DI MASYARAKAT

      Acara yasinan biasanya diadakan oleh seorang yang mempunyai hajatan dengan mendatangkan beberapa orang tetangganya untuk ikut serta membaca surat yasin pada acara tersebut. Ada juga acara yasinan diadakan karena sudah menjadi tradisi terdahulu, misalnya di pesantren “Minhajut Tamyiz” Yogyakarta, Jatinom Klaten dan Pendoporejo Kulon Progo. Di pesantren Minhajut Tamyiz acara Yasinan biasanya hanya diadakan rutin tiap malam Jum’at, meskipun terkadang ada beberapa warga masyarakat yang meminta agar acara Yasinan dilakukan di rumahnya saja. Santri-santri diundang dalam acara Yasinan yang diadakan oleh masyarakat baik sebagai rasa syukur karena mendapatkan rizki, meminta hajat, maupun syukuran atas masa kehamilan tujuh bulan dan lain-lainya. Tidak begitu berbeda dengan dua tempat lainnya seperti Jatinom dan Pendoporejo.

      Pelaksanaannya di awali dengan pembukaan oleh pemimpin, rais atau imam dengan mengirim surat al-Fatihah kepada Nabi, Sahabat, para Ulama dan kepada orang-orang atau keluarga yang telah meninggal. Kemudian imam melanjutkannya dengan mengawali bacaan surah Yasin dengan ta’awudz dan membaca basmalah dan membaca surat Yasin tersebut bersama-sama sampai selesai, setelah selsai membaca surah yasin dilanjutkan dengan berzikir dan mendoakan sesuai permintaan sang tuan rumah yang memiliki hajat tersebut, ada yang sukuran, karena kelahiran sang bayi, ada yang mengirim doa untuk kepergian kerabatnnya.

      Setelah rais selesai membacakan doa, acara tersebut dilanjutkan dengan acara makan-makan dengan hidangan ala kadarnya. Dalam penyajian dan suguhan makanan disesuaikan dengan keuangan sang tuan ruamah, atau dengan yang punya hajat, dan selera lidah warga setempat dan lain sebagainya. Maka darisinilah kami dapat mengetahui bagaimana prosesi pelaksanaan tradisi Yasinan tersebut mulai rais memimpin acara Yasinan sampai selesai kemudian dilanjutkan penyantapan hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah setelah itu diteruskan dengan acara “mengobrol” oleh masyarakat. Obrolannya pun bermacam-macam ada yang berbicara masalah ta’mir masjid, ada yang arisan, ada yang membicarakan pasangan terutama dalam kalangan muda-mudi, dan banyak obrolan lainnya yang tidak bisa kami sampaikan dalam makalh ini.

MEMAKNAI TRADISI YASINAN

      Sudah menjadi hal yang umum jika tradisi Yasinan digunakan sebagai Majelis taklim dan dzikir mingguan masyarakat dan sebagai media dakwah agar masyarakat menjadi lebih dekat dengan Tuhannya. Namun di sisi lain tradisi Yasinan bisa dimaknai sebagai forum silaturahmi warga, yang tadinya tidak kenal menjadi kenal, yang tadinya tidak akrab menjadi lebih akrab. Kegotong royongan, solidaritas sosial, tolong menolong, rasa simpati dan empati juga merupakan sisi lain dari adanya tradisi Yasinan. Kegotong royongan ketika mengadakan acara. Tolong menolong agar acaranya berjalan sesuai yang diharapkan. Rasa empati dan simpati ketika ada seseorang kerabatnya yang kesusahan atau kerababnya yang meninggal. Semua itu merupakan makna lain yang terkandung dalam tradisi Yasinan.

      Tradisi Yasinan yang sudah menjadi tradisi masyarakat khususnya pesantren Minhajut Tamyiz, masyarakat Pendoporejo dan Jatinom memiliki dua makna yaitu sosiologis dan ekonomis. Makna sosiologis yaitu memandang tradisi Yasinan sebagai sebuah acara keagamaaan dimana warga berkumpul dan membaur dalam bahasa Jawanya “ srawung” yaitu bersosialisasi dengan warga lain. Jika salah seorang warga tidak pernah menghadiri yasinan maka dapat dikatan “ra srawung”. Artinya warga tersebut mendapatkan sanksi sosial dimana masyarakat mengucilkan atau menjauhinya, karena masyarakat masyarakat memiliki norma-norma bersama yang telah disepakati secara tidak tertulis. Sehingga pada keadaan seperti itu

      Tradisi Yasinan juga dapat dipandang sebagai perekat hubungan sosial warga., ketika mengikuti acara Yasinan maka warga yang kemarin tidak kenal satu sama lain akan menjadi kenal. Dengan acara seperti ini dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama warga. Disamping itu juga dengan keikutsertaan warga mengikuti acara Yasinan dapat menumbuhkan rasa empati dan simpati masyarakat untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang mengadakan acara Yasinan. Dalam persiapannya menyajikan makanan, para kaum perempuan dan laki-laki saling gotong royong untuk membuatkan masakan yang telah dibiyayai oleh tuan rumah yang memiliki hajat. Oleh karena itu acara Yasinan sangat berpengaruh terhadap solidaritas warga masyarakat, karena saling membantu satu sama lain.

      Makna lain ialah nilai ekonomis, dimana dalam yasinan terkadang ada suguhan makanan baik berupa snack, makan, dan berkat yang dibawa pulang. Kadang juga ada yang memberikan sajadah dan diberi tulisan bahwa yasinan ini sebagai peringatan kematian anggota keluarga. Tentunya bagi warga ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan pendapatan bagi keluarganya. Yang lebih unik lagi bagi yang mengadakan acara Yasinan, terkadang bila tidak ada uang untuk melaksanakan hal tersebut mereka rela menjual harta yang ada misal sawah, perhiasan atau ternak. Untuk memberi hidangan pun ada yang sampai menyembelih sapi walau saat hari raya qurban malah tidak pernah berqurban. Gotong royong dalam penyajian makanan pun menjani nilai ekonomis bagi masyarakat karena dapat mengurangi pengeluaran tenaga dan waktu.

      Disamping itu, konsep theology dan filsafat yang terdapat pada Yasinan turut serta dalam membentuk mental solidaritas. Misalnya engaruh dari konsep theology, masyarakat percaya bahwa dosa mereka terhadap sesama manusia itu dapat tertutupu dengan amalan-amalan yang baik yang dilakukan selama hidup dibumi dengan bertindak sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan hadits, sehingga pada konsep filsafat, sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendirian yang membutuhkan orang lain maka haruslah saling tolong menolong sesama manusia apalagi sesama umat muslim, supaya dapat mempersatukan umat muslim seutuhnya dan menghindari pertikaian.

KESIMPULAN

      Sejarah yasinan dalam masyarakat khususnya pesantren Minhajut Tamyiz Yogyakarta, Pendoporejo Kulon Progo dan Jatinom Klaten merupakan tradisi yang secara turun temurun diwariskan dari nenek moyang yang kemudian diadopsi oleh Islam sebagai bagian dari ajaran agama.

      Pelaksanaannya di awali dengan pembukaan oleh pemimpin, rais atau imam dengan mengirim surat al-Fatihah kepada Nabi, Sahabat, para Ulama dan kepada orang-orang atau keluarga yang telah meninggal. Kemudian imam melanjutkannya dengan mengawali bacaan surah Yasin dengan ta’awudz dan membaca basmalah dan membaca surat Yasin tersebut dibaca bersama-sama sampai selesai, setelah selsai membaca surah yasin dilanjutkan dengan berzikir (tahlilan) dan diakhiri dengan doa sesuai permintaan sang tuan rumah yang memiliki hajat, ada yang sukuran atas kehamilannya yang tujuh bulan, karena kelahiran sang bayi, ada yang mempunyai hajat agar mendapatkan rizki yang banyak, dan ada pula yang mengirim doa untuk kepergian kerabatnnya. Setelah doa acara tersebut diteruskan dengan acara “penjamuan makanan” dan acara “mengobrol”. Entah apa yang diobrolkan mulai obrolan tentang ta’mir masjid sampai kepada arisan.

      Makna dibalik tradisi Yasianan adalah sebagai sosialisasi, ,

      Dimasa kini, pelaksanaan Yasinan bertujuan :

  1. Sebagai Majelis taklim dan dzikir mingguan
  2. Pembacaan doa terhadap orang yang sakit atau yang telah meninggal
  3. Sarana gotong royong, tolong menolong, menaruh rasa simpati dan empati
  4. Sebagai Forum silahturahmi warga
  5. Sebagai Media syukuran (syukur nikmah) sebuah keluarga yang telah mendapat nikmat dari Allah SWT.
  6. Terkadang di daerah tertentu juga dibarengkan dengan Arisan seperti daerah Jatinom
  7. Sebagai media sedekah (berupa hidangan ala kadarnya)

HASIL WAWANCARA

      Informan dari rais dalam pembacaan surah Yasin (Ust. Iman Effendi) mengatakan bahwa membaca Surah Yasin memiliki faedah tersendiri diantaranya:

  1. Surat Yasin lebih akrab di tengah masyarakat karena biasa dibaca pada saat ada orang yang hendak meninggal atau telah meninggal maupun mendoakan seseorang yang sedang sakit.
  2. Surat Yasin memiliki fadhilah (keutamaan) bagi yang membacanya.
  3. Yasin dapat dibaca saat kita mengharap rezeki Tuhan, meminta sembuh dari penyakit, menghadap ujian, mencari jodoh, dan lain-lain.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2012 in PENELITIAN

 

Tag: , , , , ,

Laporan Penelitian Kesehatan Lingkungan

Di susun Oleh:

Neneng Nihayatul Aini

BAB I

PENDAHULUAN

     A.           LATAR BELAKANG

      Pemakaian zat berbahaya dalam makanan-minuman yang dikonsumsi penduduk Indonesia menjadi berita yang menarik bagi media massa sejak beberapa tahun terakhir. Pemakaian produk ini seringkali digunakan oleh pedagang jajanan atau makanan yang biasa keliling atau berdagang di pinggir jalan. Namun, berita seperti ini tidak pernah membuat masyarakat Indonesia kehilangan seleranya untuk tetap mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat berbahaya tersebut begitupun pedagang dari makanan ini seperti tidak pernah ada niatan untuk merubah perilaku mereka dalam hal penambahan zat berbahaya kedalam makanan atau minuman yang mereka jual. Zat berbahaya yang banyak di temui di pasaran umumnya seperti, borax, formalin, dan penggunaan minyak goreng yang berulang-ulang atau kita sebut minyak jelantah. Penggunaan minyak jelantah ini sangat merugikan konsumen gorengan atau makanan yang digoreng, karena dalam minyak jelantah tersebut banyak mengandung zat karsinogenik atau penyebab kangker. pemakaian minyak jelantah yang berulang-ulang akan meningkatkan gugus radikal peroksida yang mengikat oksigen, sehingga mengakibatkan oksidasi terhadap jaringan sel tubuh manusia dan kalau hal ini terus berlanjut, niscaya akan mengakibatkan kanker. Namun, kendati pengetahuan tentang zat bahaya yang ada pada minyak jelantah ini telah meluas, perilaku masyarakat Indonesia khusunya kota Yogyakarta dalam kegemarannya mengkonsumsi jajanan gorengan tidak selaras dengan kehati-hatian mereka dalam memilih jajanan yang baik atau sehat.

      Kegemaran masyarakat Yogyakarta yang sering mengkonsumsi makanan di warung lesehan pinggir jalan dapat dikatakan cukup tinggi. Perilaku mengkonsumsi makanan di lesehan ini dimiliki oleh berbagai kalangan masyarakat di Yogyakarta. Namun, yang paling mendominasi adalah kalangan mahasiswa yang notabennya mereka adalah pendatang dan kalangan seperti pekerja. Namun, pada taman kuliner ini konsumen dominan adalah mahasiswa dengan usia sekitar 17-25 tahun dan kalangan lain, seperti pekerja kantoran.  Makanan-makanan yang disajikan di warung lesehan ini cukup variatif. Tempe, tahu, ayam, atau ikan lele tersedia disini. Makanan tadi biasanya disajikan dalam bentuk digoreng atau dibakar. Yang menjadi sorotan adalah bagaimana proses penyajian dari makanan ini oleh pedagang. Seperti banyak diketahui dan berdasarkan observasi yang kami lakukan terdahulu umumnya pedagang makanan lesehan ini sering menggunakan minyak goreng yang digunakan berulang kali atau kita sebut minyak jelantah. Banyak faktor yang mempengaruhi penggunaan minyak ini terus berlanjut. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan tentang batas berapa kali penggunaan minyak goreng yang masih dibilang aman. Sehingga, masih banyak pedagang yang menggunakan minyak jelantah ini.

      Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng kelapa sawit adalah asam lemak bebas. Peningkatan jumlah asam lemak bebas ini terjadi bila minyak goreng teroksidasi ataupun terhidrolisis sehingga mengakibatkan ikatan rangkap yang ada dalam minyak akan pecah. Pecahnya ikatan rangkap ini lama-kelamaan akan membuat minyak goreng semakin jenuh (penebar swadaya,1992).

      Minyak yang mengandung presentase asam lemak dengan kadar yang tinggi kurang baik untuk kesehatan, karena dalam proses penggorengan minyak ini akan mengalami polimerasi, juga membentuk trans fatty acid (asam lemak trans) dan free radicals (radikal bebas) yang bersifat toksik dan karsinogenik. Idealnya minyak goreng digunakan dalam 3-4 kali penggorengan, tetapi para pedagang jajanan rata-rata menggunakan minyak goreng sebanyak 19 kali.

      Pada penelitian ini kami akan mencoba melakukan pengujian kadar asam lemak bebas pada minyak goreng yang digunakan oleh pedagang yang berada di taman kuliner karang malang Yogyakarta. Sehingga dengan penelitian ini kami berharap khalayak umum khususnya para pedagang ini mengetahui batas aman dari penggunaan minyak jelantah dan mengetahui bahaya dari penggunaan minyak jelantah.

         B.            RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang ada di atas, kami merumuskan masalah yang akan kami bahas yaitu :

  1. Berapa kali rata-rata penggunaan minyak jelantah yang digunakan oleh pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang ?
  2. Berapakah kadar asam lemak bebas dalam minyak goreng yang digunakan oleh para pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang ?
  3. Adakah gangguan yang ditimbulkan dari penggunaan minyak jelantah terhadap kesehatan ?
       C.           TUJUAN PENELITIAN
  1.  Mengetahui rata-rata penggunaan minyak jelantah yang digunakan oleh pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang.
  2. Mengetahui kadar asam lemak bebas dalam minyak goreng yang digunakan oleh para pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang.
  3. Mengetahui gangguan yang ditimbulkan dari penggunaan minyak jelantah terhadap kesehatan.
       D.           MANFAAT

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dan informasi terhadap :

  1. Masyarakat umum khususnya pedagang makanan lesehan di taman kuliner Karang Malang dapat mengetahui bahaya dari pengguanan minyak jelantah dan merubah perilaku tidak sehat seperti tidak menggunakan minyak jelantah untk menggoreng makanan.
  2. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang kadar atau kandungan asam lemak bebas dalam minyak goreng yang telah digunakan berulang kali.
  3. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi atau acuan untuk penelitian selanjutnya.
       E.            BATASAN MASALAH

      Pada penelitian ini kami melakukan pengujian kadar asam lemak bebas dari minyak goreng yang digunakan pedagang makanan lesehan di taman kuliner Karang Malang dan menguji kualitas dari minyak goreng tersebut secara kasat mata dengan melihat warna dan bau dari minyak tersebut serta melihat dampak gangguan yang ditimbulkan pada konsumen.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

       A.           KAJIAN PUSTAKA

      Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan, berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk menggoreng makanan. Minyak goreng dari tumbuhan dihasilkan dari tanaman seperti kelapa, biji-bijian, kacang-kacangan, jagung dan kedelai (Ketaren, 1986). Minyak goreng berfungsi sebagai pengantar panas, penambah rasa gurih, dan penambah nilai kalori bahan pangan. Mutu minyak goreng ditentukan oleh titik asapnya, yaitu suhu pemanasan minyak sampai terbentuk akrolein yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan.hidrolasi gliserol akan membentuk aldehida tidak jenuh atau akrolein tersebut. makin tinggi titik asapnya makin baik minyak goreng itu. Titik asap suatu minyak goreng tergantung dari kadar gliserol bebas. Minyak yang telah digunakan untuk menggoreng titik asapnya akan turun, karena telah terjadi hidrolisis molekul lemak. Karena itu untuk menekan terjadinya hidrolisis, pemanasan minyak sebaiknya dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggi (suhu penggorengan 177°C – 221°C) (F.G Winarno, 2004).

      Minyak jelantah adalah minyak goreng yang dipakai untuk menggoreng bahan makanan, dalam satu proses penggorengan bahan makanan gorengan yang digunakan berkali-kali. Dilakukan dalam skala rumah-tangga maupun dalam usaha restoran, rumah makan, hotel, industri pengolahan pangan, dan lain-lain. Minyak yang digunakan pun bermacam-macam, ada yang terbuat dari kelapa, kelapa sawit, dan jagung. Namun pada hakikatnya sebagian besar minyak goreng terbuat dari tumbuhan atau bahan nabati, dan yang paling banyak digunakan adalah minyak goreng yang terbuat dari kelapa sawit. Minyak goreng yang sudah dipakai itulah yang disebut minyak jelantah. Pemakaian minyak jelantah sampai tiga kali, masih dapat ditoleransi dan dianggap baik, atau tidak membahayakan bagi kesehatan manusia. Tapi jika lebih dari tiga kali, apalagi kalau warnanya sudah berubah menjadi kehitam-hitaman, maka itu sebagai indikasi tidak baik dan harus dihindarkan.

      Secara kimia, minyak jelantah sangat berbeda dengan minyak sawit yang belum digunakan untuk menggoreng. Pada minyak sawit terdapat sekitar 45,5 persen asam lemak jenuh yang didominasi oleh asam lemak palmitat dan sekitar 54,1 persen asam lemak tak jenuh yang didominasi oleh asam lemak oleat. Sedangkan pada minyak jelantah, angka asam lemak jenuh jauh lebih tinggi dari pada angka asam lemak tidak jenuhnya. Asam lemak jenuh sangat berbahaya bagi tubuh karena dapat memicu berbagai penyakit penyebab kematian, seperti penyakit jantung dan stroke.

      Minyak goreng dapat digunakan hingga 3-4 kali penggorengan. Jika digunakan berulang kali, minyak akan berubah warna. Zat warna dalam minyak terdiri dari dua golongan, yaitu zat warna alamiah dan warna dari hasil degradasi zat warna alamiah. Zat warna tersebut terdiri dari α dan β karotein, xanthofil, klorofil dan anthosyanin. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan dan kemerah-merahan (Djatmiko dan Widjaja, 1973, Ketaren, 1986).

      Pada proses penggorengan pertama, minyak memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh yang tinggi. Kadar asam lemak tidak jenuhnya akan semakin menurun dengan semakin seringnya minyak dipakai secara berulang, sedangkan kadar asam lemak jenuhnya meningkat. Minyak goreng yang digunakan lebih dari empat kali akan mengalami proses oksidasi. Proses oksidasi tersebut akan membentuk gugus peroksida dan monomer siklik. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan gugus peroksida dalam dosis yang besar dapat merangsang terjadinya kanker kolon. Selain itu, penggunaan minyak jelantah dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan dan diare.

      Sebagai media transfer panas, saat proses penggorengan berlangsung, dengan pemanasan yang tinggi (3000°C-3500°C), minyak goreng akan teradsorbsi pada makanan masuk mengisi ruang-ruang kosong pada makanan sehingga hasil penggorengan mengandung 5-40 % minyak. Dengan demikian mau tidak mau minyak goreng ikut terkonsumsi dan masuk ke dalam tubuh. Hal ini tidak menjadi masalah selama minyak yang digunakan untuk menggoreng tidak rusak. Akan tetapi masyarakat kebanyakan tidak mengetahui hal tersebut dan terus menggunakan minyak goreng itu berkali-kali, hingga menjadi rusak. Sehingga minyak goreng yang digunakan dan dikonsumsi pun sudah tidak sehat lagi. Penyebabnya sangat bervariasi diantaranya adalah faktor ekonomi, rasa sayang dan merasa rugi jika minyak goreng itu tidak digunakan karena harus dibuang, dan diganti dengan yang baru. Walaupun minyak tersebut jelas sudah rusak dan tidak layak konsumsi dari sisi kesehatan.

      Minyak yang baik adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak dibandingkan dengan kandungan asam lemak jenuhnya. Setelah penggorengan berkali-kali, asam lemak yang terkandung dalam minyak akan semakin jenuh. Dengan demikian minyak tersebut dapat dikatakan telah rusak atau dapat disebut minyak jelantah. Suhu yang semakin tinggi dan pemanasan yang semakin lama akan meningkatkan kadar asam lemak jenuh dalam minyak. Minyak nabati lama lama akan meningkatkan kadar asam lemak jenuh dalam minyak. Minyak nabati dengan kadar asam lemak jenuh yang tinggi akan mengakibatkan makanan yang digoreng menjadi menjadi berbahaya bagi kesehatan, seperti deposit lemak yang tidak normal, kanker, kontrol tidak sempurna pada pusat syaraf (Djatmiko dan Widjaja, 1973, Ketaren, 1986).

      Ketika kandungan minyak memiliki tingkatan bilangan peroksida yang tinggi, menyebabkan minyak goreng tersebut rusak, sehingga sangat tidak layak untuk digunakan dalam proses penggorengan makanan. Hal ini dikarenakan beberapa hal diantaranya pemanasan minyak pada waktu digunakan yang melebihi standart. Sedangkan standarisasi dalam proses penggorengan normalnya antara 177-221°C. Kebanyakan orang justru menggunakan minyak goreng dengan suhu minyak antara 200-300°C. Dapat kita bayangkan, betapa rusaknya minyak goreng tersebut. Pada suhu seperti ini, ikatan rangkap pada asam lemak tak jenuh rusak kemudian akan teroksidasi, membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, sehingga yang tersisa adalah asam lemak jenuh saja. Resiko terhadap meningkatnya kolesterol darah tentu akan semakin tinggi. Penelitian pada tikus menunjukkan gugus peroksida tersebut dapat merangsang munculnya penyakit kanker kolon, Selain itu vitamin A, D, E dan K yang terdapat di dalamnya pun akan ikut rusak. Minyak goreng yang telah digunakan, akan mengalami beberapa reaksi yang menurunkan kadar mutunya. Pada suhu pemanasan, akan membentuk akrolein, yakni sejenis aldehid yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Minyak goreng sisa atau lebih dikenal dengan minyak jelantah ini telah mengalami penguraian molekul-molekul, sehingga titik asapnya turun drastis. Karena jelantah itu mudah mengalami oksidasi, maka jika disimpan akan cepat berbau tengik. Selain itu, jelantah juga disukai jamur aflatoksin sebagai tempat berkembangbiak. Jamur ini menghasilkan racun aflatoksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, terutama pada hati atau liver. Minyak jelantah jika ditinjau dari komposisi kimianya, mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik penyebab kanker.

      Sebenarnya di pasaran terdapat banyak jenis minyak goreng, diantaranya ada yang berbahan dasar dari jenis palmae yang terdiri dari kelapa dan kelapa sawit. Kemudian ada yang terbuat dari jenis kacang-kacangan seperti kedelai dan kacang tanah. Jenis serealia yang terdiri dari jagung dan padi. Jenis-jenis diatas merupakan jenis minyak goreng yang berasal dari tanaman. Masing-masing minyak memiliki karakteristik tersendiri, seperti minyak jagung. Minyak ini mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi yakni 250 kilo kalori/ons. Selain itu juga, minyak jagung relatif lebih murah dan mengandung sitosterolsehingga dapat terhindar dari gejala atherosclerosis (endapan pada pembuluh darah)yang diakibatkan terjadinya kompleks antara stosterol dan CA⁺⁺ dalam darah. Di dalam minyak ini, mengandung banyak asam lemak esensial yang dibutuhkan pada masa pertumbuhan badan. Oleh karena itu, sangat cocok sekali bila di konsumsi oleh para remaja dimana identik dalam masa pertumbuhan.

      Berdasarkan rumusan yang ada dari BSN (Badan Standarisasi Nasional) maka SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk minyak goreng yaitu SNI 01-3741-2002, SNI ini merupakan revisi dari SNI 01-3741-1995 yang menetapkan bahwa standar mutu minyak kelapa antara lain :

No Kriteria uji Satuan Persyaratan
Mutu I Mutu II
1 Keadaan
1.1 Bau Normal Normal
1.2 Rasa Normal Normal
1.3 Warna Putih, kuning pucat sampai kuning
2 Kadar Air % b/b maks 0,1 maks 0,3
3 Bilangan asam mg KOH/gr maks0,6 maks 2
4 Asam linoleat (C18:3) dalam komposisi asam lemak minyak % maks 2 maks 2
5 Cemaran logam
5.1 Timbal (pb) mg/kg maks 0,1 maks 0,1
5.2 Timah (Sn) mg/kg maks 40,0*/250 maks 40,0*/250
5.3 Raksa (Hg) mg/kg maks 0,05 maks 0,05
5.4 Tembaga (Cu) mg/kg maks 0,1 maks 0,1
6 Cemaran Arsen (As) mg/kg maks 0,1 maks 0,1
7 Minyak Pelikan** negatif negatif
Catatan * Dalam kemasan kaleng
Catatan ** Minyak pelikan adalah minyak yang tidak dapat disabunkan

(Abidanish, 2010).

      Kerusakan minyak goreng terjadi atau berlangsung selama proses penggorengan, dan itu mengakibatkan penurunan nilai gizi terhadap makanan yang digoreng. Minyak goreng yang rusak akan menyebabkan tekstur, penampilan, cita rasa dan bau yang kurang enak pada makanan. Dengan pemanasan minyak yang tinggi dan berulang-ulang, juga dapat terbentuk akrolein, di mana akrolein adalah sejenis aldehida yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan, membuat batuk konsumen dan yang tak kalah bahaya adalah dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker dalam hati dan pembengkakan organ, khususnya hati dan ginjal

        B.            KERANGKA BERFIKIR

      Perkembangan jaman yang pesat, banyak pedagang makanan lesehan yang menjual makanan gorengan. Adanya penjual makanan gorengan mempermudah mahasiswa yang hidup merantau dalam memenuhi kebutuhan makan. Akan tetapi pedagang yang menggunakan minyak goring berkali-kali penggorengan memberi dampak buruk, tergantung pada diri masing-masing bagaimana cara mengontrolnya. Dari segi bisnis, minyak jelantah yang sering digunakan akan menguntungkan pedagang gorengan. Namun hal tersebut merugikan konsumen karena memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

       A.           JENIS PENELITIAN

      Pada penelitian yang akan kami lakukan ini termasuk dalam jenis penelitian observasi.

       B.            TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

       1.    Tempat Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di Taman Kuliner Karang Malang.

       2.    Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2011.

      C.           TEKNIK SAMPLING

      Teknik sampling dalam penelitian yang akan kami lakukan ini menggunakan teknik insidental sampling karena dalam pengambilan sampel minyak ini kami langsung mengambil sampel minyak jelantah setelah para pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang saat mereka akan menutup warungnya.

       D.           POPULASI DAN SAMPEL

      1.    Populasi

      Populasi penelitian adalah minyak goreng yang digunakan oleh pedagang makan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang.

      2.    Sampel

Sampel penelitian adalah 100 gram minyak jelantah.

     E.            VARIABEL

Variabel bebas      : minyak jelantah dengan merek atau jenis yang sama.

Variabel tergayut : kadar asam lemak bebas dalam minyak jelantah.

       F.            BAHAN DAN ALAT PENELITIAN

        1.    Bahan Penelitian

  • Minyak jelantah
  • Etanol netral
  • Indicator PP 1%
  • KOH 0,05 N
      2.    Alat Penelitian
  • Pipet tetes
  • Tabung pengukur larutan
  • Tabung Erlenmeyer 250ml
  • Oven alat penimbang digital
  • Penjapit tabung gelas

       G.           CARA KERJA

  1. Menimbang 2,5 gram minyak dengan menggunakan timbangan digital
  2. Memasukkan minyak goreng kedalam tabung Erlenmeyer 250 ml
  3. Menambahkan etanol netral sebanyak 12,5 ml
  4. Memanaskan nya pada suhu kurang lebih 40 c
  5. Menambah indikator PP 1% sebanyak 2-3 tetes
  6. Menitrasi dengan KOH 0,05 N shingga warna merah jambu atau merah muda terbentuk

Teknik pengumpulan data: pengujian kadar asam lemak bebas pada sampel minyak goreng jelantah yang digunakan oleh pedagang makanan lesehan taman kuliner karang malang.

Dengan mengambil sampel 10 gram minyak jelantah di pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang, maka untuk menghitung kardar tersebut menggunakan rumus sebagai berikut:

% Asam lemak bebas = V x N X F   x 100

                G sampel

Keterangan:

V : Jumlah KOH yang diperlukan untuk titrasi sampel

N : Normalitas KOH

F  : Faktor minyak kelapa sawit “25,6”

G : Bobot contoh dalam gram                                                               (SNI-3541-2002).

 

       H.           ANALISIS DATA

Penelitian mengenai pengujian kualitas minyak jelantah pada produk makanan lesehan dan potensi yang ditimbulkan pada konsumen yang dilakukan di Taman Kuliner Karang Malang data penelitian yang diperoleh dilakukan uji regresi.

Tabel 1. Data Pengujian Kualitas Minyak Jelantah Pada Produk Makanan Lesehan Di Taman Kuliner Karang Malang

No.

Ulangan

Jumlah KOH

(Tetes)

Kadar Asam Lemak

(%)

Kadar Asam Lemak menurut SNI

(%)

1.

1

20

102,40

45,5

2.

2

18

92,16

3.

3

13

66,56

4.

4

23

117,76

Rata-rata

94,72

Tabel 2. Data Gangguan Saluran Pencernaan Pada Konsumen Setelah Mengkonsumsi Produk Makanan Lesehan Di Taman Kuliner Karang Malang

No.

Pekerjaan

Jenis Kelamin

Usia

(Tahun)

Frekuensi Mengkonsumsi

Makanan

(Kali seminggu)

Gangguan

1.

Mahasiswa Perempuan

20

2-3

Kerongkongan gatal

2.

Mahasiswa Perempuan

21

3-4

Kerongkongan gatal

3.

Mahasiswa Perempuan

20

1-2

Tidak ada

4.

Mahasiswa Laki-laki

20

2-3

Tidak ada

5.

Mahasiswa Laki-laki

19

4-5

Kerongkongan gatal

6.

Mahasiswa Perempuan

21

1-3

Kerongkongan gatal

7.

Mahasiswa Laki-laki

22

1-3

Tidak ada

8.

Mahasiswa Perempuan

22

2-4

Kerongkongan gatal

9.

Mahasiswa Laki-laki

19

3-5

Kerongkongan gatal

10.

Mahasiswa Perempuan

19

4-5

Kerongkongan gatal

Rata-rata

 

BAB IV

PEMBAHASAN 

      Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia sebagai alat pengolahan bahan-bahan makanan. Minyak goreng berfungsi sebagai media penggorengan sangat penting dan kebutuhannya semakin meningkat. Minyak dapat bersumber dari tanaman, misalnya minyak zaitun, minyak jagung, minyak kelapa, dan minyak bunga biji matahari. Minyak juga dapat bersumber dari hewan, misalnya ikan sarden, ikan paus, dan lain-lain, (S. Ketaren, 1986). Pada pasaran Indonesia, monyak goreng yang dipasar kan dan sering digunakan oleh masyarakat Indonesia umunya adalah jenis minyak kelapa sawit. Minyak ini dihasilkan dari bagian kulit (sabut) kelapa sawit maupun inti (biji) kelapa sawit melalui proses fraksinasi (pemisahan), rafinasi (pemurnian), dan hodrogenasi, (Penebar Swadaya 1992). Begitu pula pedagang yang ada di Taman Kuliner Karang Malang menggunakan minyak goreng jenis kelapa sawit untuk mengolah makanan. Minyak goreng jenis kelapa sawit curah yang biasa digunakan oleh para pedagang di Taman Kuliner Karang Malang ini merupakan bahan kajian kami, melihat banyaknya pengunjung yang datang tiap harinya yang didominasi oleh mahasiswa karena notabennya taman kuliner ini dekat dengan hunian kos mahasiswa dan strategis karena dekat dengan kampus UNY. Menu yang disediakan di Taman Kuliner Karang Malang ini cukup variatif. Namun sebagian besar olahan makanan yang ada di Taman Kuliner Karang Malang ini menggunakan minyak goreng. Bahkan, ayam, tempe, ataupun tahu yang dibakar mengalami proses penggorengan terlebih dahulu sebelum dibakar. Berdasarkan observasi kami, lebih dari dua kios pedagang yang ada di Taman Kuliner Karang Malang ini yang menyuguhkan menu makanan serba goreng dan bakar menggunakan minyak goreng secara berulang-ulang atau biasa disebut dengan minyak jelantah untuk menggoreng atau mengolah makanan. Minyak goreng jenis ini dinilai sangat buruk dan berbahaya karena bersifat karsinogenik (menyebabkan kangker). Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dari minyak goreng. Diantaranya adalah kandungan air, kandungan kotoran, kandungan asam lemak bebas, warna dan bilangan peroksida. Faktor-faktor lain adalah titik cair, kandungan gliserida, refining loss, plastisitas, spreadabiliti, kejernihan, kandungan logam berat dan bilangan penyabunan. Dari beberapa faktor ini kita dapat mengetahui kualitas dari minyak goreng yang digunakan oleh pedagang yang ada di Taman Kuliner Karang Malang ini. Namun, yang menjadi fokus kami adalah kandungan kadar asam lemak bebas pada minyak goreng yang dapat terukur dengan metode alkalimetri yang menggunakan titrasi untuk mengetahui presentase kandungan asam lemak bebas dalam minyak goreng setelah digunakan (minyak jelantah). Semakin banyak kandungan asam lemak bebas dalam minyak semakin rendah kualitas minyak. Kami mengambil sampel minyak goreng dari 4 pedagang yang berada di Taman Kuliner Karang Malang ini. Selain melakukan pengujian kandungan asam lemak bebas ini, kami pun melakukan wawancara terhadap penjual atau produsen makanan yang menggunakan minyak jelantah untuk mengolah makanannya dan konsumen yang mengkonsumsi makanan yang diolah menggunakan minyak jelantah. Hal ini, bertujuan untuk mengetahui berapa banyak ulangan penggunaan minyak goreng pada tiap pedagang makanan, mengetahui jumlah pengunjung tiap harinya, dan mengetahui efek setelah mengkonsumsi makanan yang diolah dengan menggunakan minyak jelantah pada konsumen yang mengkonsumsi produk makanan dari Taman Kuliner Karang Malang ini. Kami mengambil sampel objek konsumen untuk di wawancara secara acak dan menggunakan teknik insidental sampling.

Metode alkalimetri ini pada dasarnya menggunakan metode titrasi dengan menggunakan larutan KOH, penambahan KOH ini menggunakan pipet steril hingga warna merah jambu atau merah muda pada minyak jelantah terbentuk,  jumlah atau banyak KOH yang digunakan selama titrasi dihitung dengan rumus yang ada, rumus yang digunakan dalam metode alkalimetri ini adalah sebagai berikut:

% Asam lemak bebas = V x N X F   x 100

G sampel

Dimana:

V : Jumlah KOH yang diperlukan untuk titrasi sampel

N : Normalitas KOH

F  : Faktor minyak kelapa sawit “25,6”

G : Bobot contoh dalam gram                                                             (SNI-3541-2002).

Dari rumus diatas, kita dapat mengetahui kadar atau jumlah kandungan asam lemak bebas dalam minyak jelantah, dengan mengethui kandungan asam lemak bebas dalam minyak kami dapat mengetahui kualitas dari minyak goreng tersebut. Data kandungan asam lemak bebas dalam minyak jelantah yang diukur dengan metode alkalimetri disajikan dalam tabel berikut:

No.

Ulangan

Jumlah KOH

(Tetes)

Kadar Asam Lemak

(%)

1

1

20

20×0,5×25,6   = 102,40

                          2,5

2

2

18

18×0,5×25,6   = 92,16

                           2,5

3

3

13

13×0,5×25,6   = 66,56

                           2,5

4

4

23

23×0,5×25,6   = 117,76

                          2,5

Rata-rata

18,5

94,72

Dari data tabel yang disajikan daitas, kita dapat mengetahui kadar asam lemak bebas dari setiap ulangan minyak jelantah sangat tinggi, bahkan lebih dari 100 %. Ulangan yang diambil dari tiap pedagang makanan di Taman Kuliner Karang Malang ini berbeda-beda. Dari data diatas, minyak jelantah dengan kadar asam lemak bebas tertinggi ada dalam minyak jelantah ulangan 4, dengan menggunakan KOH sebanyak 23 tetes dan kadar asam lemak bebas dalam minyak sebesar 117,76 %, berikutnya kadar asam lemak bebas dalam minyak jelantah yang tinggi ada pada ulangan pertama yang menggunakan 20 tetes KOH untuk mentitrasi dan presentase kandungan asam lemak bebas setelah dihitung sebesar 102,4 %, pada ulangan ke-2 dan ke-3 walaupun presentase kadar asam lemak bebas dalam minyak jelantah tidak melebihi 100 %, namun tetap cukup tinggi dengan kandungan asam lemak bebas dalam minyak jelantah sebanyak 92,16 % dan 66,56 % jumlah kadar asam lemak bebas dalam minyak jelantah ini sangat tinggi mengingat standar dari asam lemak bebas dalam minyak jelantah hanya sebesar 0,2 % (S. Ketaren, 1986). Dan dair data diatas, kita juga dapat menyimulkan bahwa semakin banyak jumlah KOH yang digunakan untuk menitrasi semakin tinggi kandungan asam lemak bebas dalam minyak jelantah.  Bila kadar asam lemak bebas dalam minyak lebih dari 0,2 % maka akan mengakibatkan flavor yang tidak diinginkan dan dapat meracuni tubuh. Flavor/bau pada minyak ini selain terdapat secara alami, juga terjadi karena pembentukan asam-asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak. Umumnya flavor ini disebabkan oleh bau khas minyak dikarenakan terdapatnya beta iodine sedangkan bau khas minyak ditimbulkan oleh nonil metal keton. Disamping itu, minyak dengan kadar asam lemak bebas tinggi setelah dipanaskan akan membentuk trans fatty acids (asam lemak trans) dan free radicals (Radikal bebas) yang bersifat toksik dan karsinogenik. Kualitas standar minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari 5% asam lemak bebas (www.depperin.go.id). Peningkatan kadar asam lemak bebas ini terjadi karena adanya proses oksidasi dan minyak terhidrolisis sehingga mengakibatkan ikatan rangkap yang ada dalam minyak akan pecah. Pecahnya ikatan rangkap ini akan membuat minyak goreng lama-kelamaan akan menjadi semakin jenuh (penebar swadaya, 1992). Pada pengamatan yang kami lakuakan, kami juga melakukan identifikasi minyak secara kenampakan fisik. Yakni, dilihat dari warna, flavor/bau, dan lain-lain. Pada pengamatan minyak jelantah secara fisik ini, kami melihat kulitas yang sangat buruk karena minyak jelantah ini memiliki warna yang sangat hitam dan telah terbentuk gumpalan- gumpalan kecil berwarna hitam dan falvor/bau dari minyak jelantah ini agak tengik. Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan dengan pedagang makanan yang menggunakan minyak jelantah di Taman Kuliner Karang Malang ini, kami mengetahui rata- rata pengunjung tiap harinya adalah sektar 80-100 pengunjung, namun jumlah pengunjung yang cukup besar ini tidak sebanding dengan penggantian penggunaan minyak goreng untuk mengolah makanan yang disajikan oleh para pedagang. Beradasarkan hasil wawancara, para pedagang yang berada di Taman Kuliner Karang Malang ini hanya mengganti minyak goreng sebanyak 2 kali atau 3 kali, namun umumnya hanya sebanyak 2 kali, padahal proses mengolah makanan yang menggunakan minyak goreng bisa sampai 80 kali dalam seharinya, hal ini berarti minyak goreng digunakan sebanyak 40 kali ulangan untuk mengolah makanan yang digoreng dan disajikan untuk konsumen. Hal ini sangat wajar, bila kenampakan fisik minyak jelantah yang digunakan pedagang di Taman Kuliner Kurang Malang ini sangatlah buruk. Penggunaan minyak jelantah oleh para pedagang ini dapat terjadi seiring pengetahuan dan perhatian dari masyarakat dan pemerintah tentang bahaya minyak jelantah yang sekarang ini cukup tinggi.

Selain melakuan pengamatan kadar asam lemak bebas dalam minyak kami juga melakuakn observasi efek yang diakibatkan oleh pengkonsumsian makanan yang diolah menggunakan minyak jelantah pada konsumen. Observasi ini dilakuakn dengan teknik wawancara dan dalam pengambilan sampel/objek dilakukan wawancara secara acak. Kami mengambil 10 sampel/objek untuk diwawancara, yang umumnya berstatus sebagai mahasiswa dan usia sekitar 19-22 tahun. Karena mayoritas pengunjung atau konsumen Taman Kuliner Karang Malang ini adalah wanita, maka dari ke-10 sampel wawancara kami didominasi oleh wanita. Dari hasil wawancara yang kami lakukan, kami dapat mengetahui efek yang diakibatkan dari pengkonsumsian makanan yang diolah dengan menggunakan minyak jelantah pada konsumen, kami pun mendeskripsikan sebarapa sering konsumen mengunjungi dan mengkonsumsi makanan yang disajikan ditaman kuliner ini selama seminggu. Umumnya kesepuluh sampel/objek yang kami wawancara dapat mengunjungi dan mengkonsumsi makanan di Taman Kuliner Karang Malang ini sebanyak 1-6 kali dalam seminggu. Dari kesepuluh objek yang kami wawancara didapatkan 7 orang yang mengaku mereka sering merasakan gatal pada tenggorokan setelah mengkonsumsi makanan yang disajikan di Taman Kuliner Karang Malang ini. Rasa gatal ini dapat terjadi karena pada proses pengolahan minyak goreng saat diapanaskan dengan suhu yang tidak teratur atau sangat tinggi akan mengakibatkan terbentuknya akrolein yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Hasil hidrolisis gliserol akan membentuk aldehida tidak jenuh atau akrolein tersebut. standar besar suhu untuk  pemanasan minyak goreng adalah sebesar 177°C – 221°C (F.G Winarno, 2004).

BAB IV

KESIMPULAN 

      Berdasarkan pada data hasil penelitian yang telah kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :

  1. Rata-rata penggunaan minyak jelantah yang digunakan oleh pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang adalah 2-3 kali perhari.
  2. Kadar asam lemak bebas dalam minyak goreng yang digunakan oleh para pedagang makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang, yaitu 102,4 %; 92,16 %; 66,56 % dan 117,76 % dengan rata-rata 94,72 %.
  3. Gangguan yang ditimbulkan dari penggunaan minyak jelantah terhadap kesehatan adalah gatal pada tenggorokan setelah mengkonsumsi makanan lesehan di Taman Kuliner Karang Malang.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.halalmui.org/index.php?option=com_content&view=article&id=262:tidak-thoyyib-menggunakan-minyak-jelantah-berulang-ulang&lang=in

http://202.158.23.137/index.php?sni=04

http://iloaprilino.student.umm.ac.id/?p=76

http://produkkelapa.wordpress.com/2010/04/13/standar-mutu-minyak-goreng-kelapa-2/

http://yunior.ampl.or.id/?tp=berita_kita&menu=on&view=detail&path=13&kode=176&ktg=3&select=

LAMPIRAN 1

Gambar 1. Larutan etanol netral, indikator PP dan KOH 0,05 N

Gambar 2. Alat pemanas

Gambar 3. Minyak jelantah

Gambar 4. Minyak jelantah ditambahkan etanol netral


LAMPIRAN 2

Gambar 5. Minyak jelantah dan etanol netral setelah dipanaskan

Gambar 6. Uji kadar asam lemak ulangan ke-1

Gambar 7. Uji kadar asam lemak ulangan ke-2

Gambar 8. Uji kadar asam lemak ulangan ke-3


LAMPIRAN 3

Gambar 9. Uji kadar asam lemak ulangan ke-4


 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2012 in PENELITIAN

 

Eksistensi Budaya Islam di Indonesia

Eksistensi Budaya Islam di Indonesia

            A.     Konsep Kebudayaan dalam Islam

Secara umum kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil oleh akal,budi yang berupa cipta, rasa, karsa dan karya manusia yang tidak lepas dari nilai ketuhanan. Adapun akal budi meliputi :

            Pertama, cipta merupakan kerinduan manusia untuk mengetahui rahasia hal yang ada dalam pengalamanya secara lahir dan batin . hasil cipta berupa berbagai ilmu pengetahuan.

            Kedua, karsa merupakan kerinduan manusia untuk menyadari tentang asal-usul manusia sebelum lahir dan ke mana manusia sudah mati. Hasilnya berupa norma-norma agama dan kepercayaan.

            Ketiga, rasa merupakan kerinduan manusia akan keindahan sehingga menibulkan dorongan untuk menikmatinya. Manusia pada dasarnya selalu merindukan keindahan dan menolak keburukan atau kejelekan. Hasil dari perkembangan rasa yaitu terjelma dalam  dalam bentuk berbagai norma keindahan yang kemudian menghasilkan berbagai macam kesenian.

            Sementara itu , hasil budaya manusia dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :

1.kebudayaan jamaniyah (kebudayaan fisik) seperti benda-benda ciptaan manusia, misalnya alat perlengkapan hidup.

2.kebudayaan rohaniyah (non-material), yaitu hasil ciptaan yang tidak dapat dilihat dan diraba, seperti agama, ilmu pengetahuan, bahasa dan seni.

      Kebudayaan tidak diperoleh manusia sebagai warisan atau generatif (biologis) namun hahya mungkin diperoleh dengan belajar dari masyarakat. Tanpa masyarakat manusia akan mengalami kesulitan dalam membentuk budaya. Sebaliknya, tanpa budaya manusia tidak dapat memepertahakan kehidupanya. Justru dengan adanya kebudayaan dapat digunakan untuk membedakan manusia dengan hewan.

      Dalam perkembangannya perlu bimbingan wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap oleh ambisi yang bersumber dari nafsu hewani dan berdampak merugikan diri sendiri. Dalam hal ini agama berfungsi sebagai pembimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang beradab atau peradaban islam.

      Hasil perkembangan kebudayaan yang dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan disebut kebudayaan islam, di mana fungsi agama akan beperan semakin jelas. Ketika perkembangan dan dinamika kehidupan umat manusia mengalami kebekuan karena keterbatasan kemampuan dalam memecahkan persoalan hidup. Kondisi semacam ini dipandang perlu untuk mengunakan bimbingan wahyu.

        B.Pinsip-prinsip kebudayaan islam

Kebudayaan memperoleh perhatian yang serius dalam islam karena mempunyai peran yang sangat penting untuk membumikan ajaran utama sesuai dengan kondisi dan kebutuhan hidup umat islam. Sebagimana paparan di atas bahwa kebudayaan islam merupakan kebudayaan yang sesuai  dengan nilai-nilai atau norma-norma islam, maka prinsip-prinsip kebudayaan dalam islam merujuk pada sumber ajaran islam yaitu :

Pertama,menghormati akal. manusia dengan akalnya bisa membangun kebudayaan baru. Oleh karnanya kebudayan islam menempatkan akal pada posisi terhormat. Kebudayaan islam tidak akan menampilkan hal-hal yang dapat merusak akal manusia. Prinsip ini diambil dari firman Allah yang artinya : ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda    ( kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (Qs.Ali-imran,3:190).

Kedua, memotivasi untuk menuntut dan mengembangkan ilmu. dengan semakin berkembangnya ilmu seseorang maka dengan sendirinya kebudayan islam akan semakin maju. Hal ini senada dengan dengan firman Allah Swt : “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat” (Qs. Al-mujadallah 58:11).

Ketiga, menghindari taklid buta. Kebudayaan islam hendaknya mengantarkan umat islam manusia untuk tidak menerima sesuatu sebelum diteliti, tidak asal mengikuti orang lain tanpa tahu alasanya, meski dari kedua orang tua atau nenek moyang sekalipun. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt : “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui . karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akan diminta pertanggungjawabanya” (Qs.Al-Isra 17:36)

   Keempat, tidak membuat kerusaan . kebudayaan islam boleh dikembangkan seluas-luasnya oleh manusia itu sendiri , namun tetap harus mempertimbangkan keseimbangan alam agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah Swt : ”Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (Qs.Al-Qashash 28:77)

Manusia diberi kebebasan oleh Allah untuk mengolah, mengelola dan memakmurkan bumi tempat dia tinggal. Manusia dipersilahkan untuk mengembangkan kebudayaan sesuai dengan  kapasitasnya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini, tentunya dengan batasan-batasan yang ditetapkan syariat islam.

         C.Sikap Islam Terhadap kebudayaan

            Islam pada hakikatnya datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa mudlarat didalam kehidupanya, sehingga islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarkat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

            Prinsip semacam ini sebenarnya telah menjiwai isi undang-undang dasar negara Indonesia, pasal 32, disebutkan : “Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bansa sendiri, serta memertinggi derajat kemanusiaan bangsa indonesia”.

            Dari paparan di atas, islam membagi kebudayaan menjadi  tiga macam :

            Pertama, Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan islam. Dalam kaidah fiqih disebutkan : “al-Adatu-Muhakkamatun” artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan dari budaya manusia, mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum.tapi perlu diketahui bahwa kaidah tersebut hanya berlaku padahal-hal yang belum ada ketentuanya dalam sari’at Islam, seperti : kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Aceh, umpamanya , keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas. Dalam islam itu sah-sah saja, karena islam tidak menentukan besar kecilnya mahar yang harus diberikan kepada wanita.

            Adapun untuk hal-hal yang sudah ditetapkan oleh syari’at  islam maka adat-istiadat tidak boleh dijadikan standar hukum. salah satu contoh pendapat yang mengatakan bahwa menikah antar agama adalah diperbolehkan dalam islam dengan dalil “Al-Adatu muhakkamatun” karena nikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat, maka diperbolehkan dengan dasar kaidah diatas. pernyataan seperti itu tidak benar, karena islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan menikah dengan orang kafir.

            Kedua, kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan  islam, kemudian direkonstruksi  sehingga menjadi kebudayaan islami. Contohnya, tradisi jahiliyah dalam melakukan ibadah haji dengan cara-cara bertentangan dengan agama islam , seperti lafadh “talbiyah” yang sarat dengan kesyirikan, thowaf ka’bah dengan telanjang. Islam datang untuk merekonstruksi budaya tersebut, menjadi bentuk ibadah yang telah ditetapkan aturanya.

            Ketiga, kebudayaan yang bertentangan dengan islam. Seperti budaya ngaben yang dilakukan oleh masyarakat bali, Yaitu upacara pembakaran mayat, hal ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. dan contoh lain di Cilacap,jawa tengah .yaitu budaya “tumpeng rosulan”, yaitu makanan yang dipersembahkan kepada  rosullolah dan tumpeng lain yang dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul.

 

        D.Kesimpulan      

Bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta,rasa,karsa manusia yang tidak lepas dari nilai ketuhanan, dalam perkembanganya budaya juga harus selaras dengan ajaran agama, Al-Qur’an mempunyai peran yang sangat penting dalam pekembangan budaya tersebut, dan Al-Qur’anpun juga memberi kebebasan kepada manusia dalam menciptakan kebudayaan , namun kebudayaan tersebut harus sesuai dengan aturan-aturan islam. Supaya kebudayaan yang telah diciptakan itu tidak menimbulkan kema’siyatan. Dalam hal ini kita sebagai cendikiawan muslim harus memiliki sikap peka terhadap perkembangan budaya yang ada ,sehingga kita bisa meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat  menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 7, 2012 in ARTIKEL

 

IDIOLOGISASI INTELEKTUAL

   Seorang Intelektual berbeda dengan ilmuwan. Ilmuwan hanya memberikan fakta tapi intelektual memberikan penilaian. Jika Ali Syari’ati menyebutkan intelektual sebagai pemikir yang tercerahkan karena mengikuti ideology islam secara tersadarkan sehingga ia akan memimpin masyarakat menuju perubahan yang revolusioner.

   Syeikh Taqiyudin An Nabhani mengatakatan, perubahan harus berasaskan pada sebuah gerakan politik tanpa kekerasan karena islam adalah sebuah ideology dan untuk merubah masyarakat menuju cita-cita yang ideal yaitu hidup di bawah aturan islan maka haruslah menempuh dengan perjuangan ideologis yang tertuang dalam sebuah gerakan perpolitikan seperti halnya yang Rasul Saw dan para sahabat contohkan.

   Kampus memiliki potensi yang sangat luar biasa, didalamnya terdapat para ilmuwan unggul dan cerdas yang fokus menekuni bidang sesuai yang diminatinya. Para intelektual tersebut ada yang berstatus sebagai mahasiswa/I, dosen dengan gelar yang berbeda. Kaum ilmuwan ini berperan sebagai peneliti, pemikir yang beraktivitas mengembangkan berbagai macam keilmuwan, sains dan technology. Jika kita berpikir melihat keadaan Indonesia yang memiliki sumber SDA yang luar biasa ada, mulai dari lahan, hutan, air dan tambang. Para ilmuwan ini terdorong untuk meneliti sumber daya alam baik yang ada di perut bumi maupun di permukaan tanah. Semua penelitian ini didapatkan dari hasil penelitian kaum ilmuwan.

  Pada faktanya, Hasil penelitian tersebut tidak gunakan untuk kemaslahatan rakyat, kebanyakan hasil penelitian hanya terbatas untuk publikasi jurnal dalam bentuk paper/makalah, baik nasional maupun internasional, atau membuat laporan hasil penelitian kepada lembaga research atu pihak pemberi dana. Jika senadainya ada dua orang yang sedang melakukan penelitian dan ia di danai segala hal-hal penelitiannya itu oleh pihak asing maka hasil penelitiannya itu menjadi pihak asing yang memegang kendali.

   Sementara mekanisme melaporkan kepada pemerintah itu tidak ada, sehingga peran pemerintah untuk menggunakan penelitian tersebut dalam hal mengelola SDA demi kemasahatan rakyat tidak ada. Justru yang tahu betul itu adalah pihak asing, sehingga merekalah yang memetakan SDA bangsa ini. Maka sungguh tidak aneh sebenarnya, jika SDA negri ini dikeruk oleh pihak asing, karena mereka sangat tahu betul SDA di bangsa ini dibandingkan rakyat maupun pemerintahnya. Tidak lepas karena peran para imuwan. Ibaratkan Indonesia memiliki ayam, yang tahu Indonesia itu punya ayam adalah kaum ilmuwan. Indonesia butuh dana untuk memberi makan buat rakyatnya, ada pihak yang lain yang punya dana. Kaum ilmuwan mengatakan pada bangsa ini,”ya sudah ayamnya saja kita jual..” Indonesia nurut-nurut ajah.. Kenapa ayamnya yang dijual, kenapa ga telurnya?? Nah, kalo ayamnya kita jual ya kita miskin.

  Peranan intelektual menuju perjuangan ideologis Islam meletakan para intelektual dalam posisi yang terhormat sebagai pendidik umat dan sekaligus pelindung umat dari berbagai kepentingan yang akan menghancurkan mereka. Bisa di bilang kaum intelektual ini ada di garda terdepan untuk melindungi bangsa ini dari kehancuran, dari terinjak-injaknya keidelismean sebagai kaum intelektual.

   Karena kalau kita melihat dari definisi intelektual sendiri itu sebagai free thinkers, pemikir yang tercerahkan , pemikir yang dicerahkan oleh ideology islam . maka intelektual saat ini benar-banar dalam keadaan lost condition! Lost ideology! Intelektual yang sekaligus menjadi sang terorisme, ya karena tidak bisa lepas dari system kapitalisme saat ini yang membuat kaum intelektual kehilangan ideology sejatinya seperti apa.

  Satu-satunya agar kaum intelektual menjadi seorang intelek yang tercerahkan, adalah kembali memahamkan islam kepada para ilmuwan, dan mengingatkan peran mereka. Mengutip dari bukunya Ali Syari’ati, ideology kaum intektual “Pemikir yang tercerahkan berbeda dengan ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan kenyataan, seorang pemikir yang tercerahkan menemukan kebenaran. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaiman adanya, pemikir yang tercerahkan memberikan penilaian seharusnya. Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal, Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya, pemikir yang tercerakan harus melibatkan diri pada ideologi.

Islam is Ideology

   Pada zaman Rasul dan para sahabat tidak di kenal istilah ideologi. Istilah ini muncul pada tahun 1950-an. Muncul dari seorang intelektual yang mencentuskan untuk perubahan keadaan umat islam menuju transformasi perubahan politik dalam setiap bidang. Dengan merubah kesadaran jumud menuju kesadaran kritis. Kesadaran kritis yaitu kesadaran melihat realita/kondisi saat ini yang sudah sangat jauh fakta islam.. Namun bukan berarti tidak adanya pemaknaan istilah ideologi ini lantas islam tidak dimaknai sebagai sebuah ideologi.. sama sekali tidak, kebiasaan kaum muslimin terdahulu adalah selalu menjadikan islam sebagai sebuah agama yang menyediakan berbagai macam solusi atas setiap permasalahan yang sedang terjadi, baik itu dari segi politik, pendidikan, sosial ke masyarakatan,muamalah, pergaulan dll.

   Seperti hal nya istiah “aqidah”, dahulu sebelum 6H umat islam tidak pernah menggunakan istilah ini. Dicetuskan dari kalangan ushuludin. Istilah ini pun merupakan padanan dari kata “iman” sehingga umat islam menerimanya. Dan untuk memudahkan umat islam dalam melakuakan aktivitas berpikir adalah dengan penyedarhanaan dalam istilah. Istilah ideologi berasal dari kata “idea” yang berarti pemikiran, daya khayal, konsep atau keyakinan. Kemudian logos yang berarti ‘ilmu atau logika.

    Dengan demikian ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan gagasan.. Kemudian istilah ideologi ini di simulasikan ke dalam bahasa ‘arab itu sendiri yaitu “idiyuluji”. Atau dengan sebutan yang berbeda yaitu mabda’. Intinya adalah pemikiran yang paling mendasar yang tidak dibangun dari pemikiran yang lain. Seorang penulis dari Perancis menyebutkan ideologi sangat erat kaitannya dengan orang yang mengerakannya, cendikiawan atau intektual dalam masyarakat. Ideologi berbeda dengan bentuk-bentuk pemikiran lain, seperti halnya ilmu pengetahuan dan filsafat. Ideologi menuntut agar kaum intelektual atau siapaun yang meyakini ideology bersikap setia (commited).

    Ideologilah yang mampu merubah masyarakat. sementara ilmu dan fisafat tidak, karena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan tanggung jawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan revolusi, pemberontakan, pengorbanan hanya dapat digerakkan oleh ideologi. Baik ilmu maupun filsafat tidak pernah dapat melahirkan revolusi dalam sejarah, walaupun keduanya selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam perjalanan waktu.

   Ideologi atas pemaknaan dalam islam merupakan pemikiran yang paling mendasar. Hanya ada pemikiran yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta apa yang ada sebelum dunia dan yang sesudahnya.. inilah pemikiran mendasar tadi yang sekaligus menjadi aqidah umat islam. Karena aqidah islam adalah pemikiran yang menyeluruh antara alam semesta dan kehidupan. Pemikiran mendasar inilah yang jua disebut sebgai pemikiran menyeluruh islam.

    Pemikiran yang mendasar ini juga di sebut sebagai ideology. Inilah subtansi ideology sendiri yaitu apa dan bagaimana ideology itu sendiri. Ideology islam berupa pemikiran/fiqrah/aqidah dan aturan/nidzam/thariqah.. kaifiyat ideology islam di terapkan islam adalah sebuah ideology penggerak perubahan menuju tatanan masyarakat yang ideal.. yang dimana perjuangannya membutuhkan perjuangan yang ideologis. Islam mendorong pemeluknya untuk menggapai cita-cita yang ideal yaitu hidup di bawah aturan ideology islam itu sendiri.

   Hal ini berarti Islam perlu dipahami sebagai sebuah ide dan bukan sebagai sekumpulan ilmu. Islam perlu difahami sebagai suatu gerakan ideologis, politik, kemanusiaan, historis dan intelektual, bukan sebagai gudang informasi teknis dan ilmiah. Dengan demikian berarti Islam perlu dipandang sebagai ideologi dalam pikiran seorang intelektual manapun.

Wallahu’alam ^^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 6, 2012 in ARTIKEL

 

MAKNA SELEBARAN JUMATAN : PERAN AL-QUR`AN DAN AL-HADIST DALAM BERARGUMEN


Oleh: Endang Supriadi

 (Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Islam didefinisikan : sebuah pengantar

Islam adalah agama Allah yang sempurna, Islam diturunkan untuk memerangi kebatilan, kejumudan dan kebodohan, agar derajat manusia terangkat ke dalam cahaya keilmuan dan keimanan yang Islami. Islam adalah sebuah agama kenabian etis, putusnya hubungan antara Muhammad dengan tradisi adalah tajam dan jelas, dan pesan yang dibawanya, atau pesan Tuhan yang diwahyukan kepadanya pada pokoknya merupakan rasionalisasi dan penyederhanaan[1]. Oleh karena itu, di dalam kitab suci Al-Qur`an terdapat cukup banyak petunjuk yang menjadi pedoman semua aspek dan segi kehidupan umat manusia dimuka bumi, meskipun hanya secara garis besar, artinya tidak secara mendetail sampai kepada persoalan teknik pelaksanaannya.

Namun garis besar yang tercantum di dalamnya, dapat diinterpretasikan secara fleksibel, dalam artian dapat dijadikan pedoman dalam mempelajari, bagaimana umat manusia harus bersikap dan bertingkah laku yang baik dan benar, dengan tidak kehilangan kreatifitas geniusnya dalam berhubungan atau mengekplorasi kekayaan alam semesta. Islam  ada di Indonesia karena berkat jasa para wali dan tokoh agama yang menyebarkannya, menurut sejarah yang dikakukan oleh Sunan Kalijga dalam rangka menyebarkan agama Islam di Demak, Bintaro melalui sekatenan.[2]

Zaman dahulu dalam melakukan penyebaran agama Islam melalui pagelaran-pagelaran yang dilakukan masyarakat setempat dengan dipimpin langsung oleh Sunan Kalijaga mendapat perhatian yang cukup fantastis dari masyarakat. Disela-sela kerumunan massa, ia menyampaikan pengajian dan ajakan masuk Islam. Ini merupakan strategi dakwah yang sangat elegan dan halus, sehingga Islam mudah diterima oleh penduduk Jawa[3].

Dalam hal ini penulis melihat aspek yang sering ada ketika menjelang sholat Jum`atan, dipinggir atau di depan pintu masuk masjid tersedia tumpukan kertas “ Buletin Jum`at “ yang berbagai warna mulai dari hijau, biru, kuning, ungu, merah dan sebaginya. Itu semua tidak lain bulletin selebaran jum`atan yang disediakan dari berbagai instansi dan kebanyakan dari Takmir masjid diantaranya: Takmir Masjid Jendral Sudirman, Majelis Tabligh dan Dakwah khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Usaha Dakwah Ar-Rijal Kost Entrepreneur.

Semua bulletin yang penulis sebutkan di atas merupakan dari sekian banyaknya bulletin yang tersebar di berbagai masjid menjelang sholat jum`at. Penulis focus terhadap tiga bulletin tersebut yang nantinya dikombinasikan ketiganya itu dan menghasilkan kesimpulan apa yang kita ketahui dengan selebaran itu, bagaimana peran Al-Qur`an dan Al-Hadits dalam berargumen (penulis bulletin). Dengan demikian penulis selain melihat dari aspek itu, penulis juga melakukan interview dengan informan (dalam hal ini jama`ah sholat Jum`at) yang membaca bulletin tersebut, sehingga harapannya nanti bisa dijadikan sebagai sempel hasil riset penulis.

Makna Al-Qur`an dan Al-Hadist dalam Buletin Jum`at

Setiap hari Jum`at disela-sela kerumunan orang berdatangan ke masjid untuk menunaikan ibadah wajib bagi setiap laki-laki. Dan ketika para jama`ah berbondong-bondong masuk ke dalam masjid, di depan pintu sudah tersedia selebaran yang biasanya diambil para jama`ah dan itu kebanyakan dipergunakan untuk membaca sambil menunggu shalat Jum`at berlangsung. Dalam bulletin Jum`at biasanya tersedia artikel, iklan, dan sebagainya. Misal dalam bulletin “Jendral Sudirman” yang diterbitkan oleh Takmir Jendral Sudirman Yogyakarta dengan alamat, Jl. Rajawali 10 Komplek Kolombo Demangan Baru Yogyakarta 55281 Telp (0274) 563149. Dalam bulletin tersebut banyak tema yang menceritakan tentang “kehidupan social dan kehidupan akherat”.

Sebagai contoh yang terdapat dalam bulletin “Jendral Sudirman” yang di tuils oleh saudara Taufik R. Syam el-sundawi yang berjudul “Jangan jadi Orang Bangkrut”[4]. Di situ penulis berkeinginan mengajak semua orang khsusunya pribadinya sendiri untuk lebih keras lagi dalam menghadapi hidup, dalam tulisannya penulis banyak mendoktrin bahwa diakherat nanti ada seseorang yang pahalnya sangat banyak, ketika di dunia dia selalu tepat waktu melaksanakan shalat bahkan dia sering berjamaah di masjid, shadaqh pun sering dia berikan apalagi menunaikan zakat, dia pun sudah lebih dari 3 kali menunaikan ibadah haji. Namun kemudian penulis menggunakan literatur Al-Hadist dan ketika penulis menyebutkan Hadist dalam penjelasalnnya tidak lebih hanya sebatas untuk mempertegas saja.

Selanjutnya bulletin lain “Risalah Jum`at”, yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh dan Dakwah khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan alamat : Jl. Gedongkuning 130 B, Yogyakarta 55171 Telp. (0274) 377078. Buletin ini berisikan materi keislaman yang didahului dengan ayat-ayat Al-Qur`an dan isinya kebanyakan ingin mengkolaborasikan keadaan yang ada di dunia dengan ayat-ayat Al-Qur`an atau mungkin bisa dikatakan bulletin “Risalah Jum`at” ini ingin mengajak para pembaca bahwa keadaan di dunia baik itu alam, keadaan dalam interaksi social dan kebesaran Allah yang ada di bumi maupun di langit, bahwa semua itu sudah dijelaskan di dalam Al-Qur`an.

Setelah ketiga-tiganya sudah dijelaskan satu persatu, peneliti bisa memberikan gambaran kecil bahwa bulletin yang sudah diteliti rata-rata menceritakan tentang keislaman dan bahkan semuanya ketika ada tulisan tidak lepas dengan ayat-ayat Allah. Ada apa dengan ayat-ayat al-Qur`an sehingga ketika menulis sesuatu tidak disertai dengan ayat-ayat al-Qur`an rasanya kurang maksimal. Yang membedakan antara ketiga bulletin itu ketika menyampaikan tulisannya “Risalah Jum`at” sering menampilkan ayat-ayat Al-Qur`an di awal pembukaan sebagai dasar dari penjelasan tema yang akan disampaikan, berbeda dengan bulletin “Hidayah” dan “Jendral Sudirman”.

Dengan demikian makna yang terdapat dalam bulletin yang sering terdapat di masjid setiap hari Jum`at, semuanya tidak lebih hanya ingin menyampaikan bahwa setiap keadaan atau kejadian yang di dunia semuanya ada di dalam ayat-ayat Al-Qur`an. Akan tetapi setiap tulisan yang ada diselebaran jumatan tidak lebih dari seperti halnya media dakwah hanya saja melalui tulisan. Ketika al-Qur`an disampaikan dalam tulisan tidak lebih dari aspek kekuatan dari apa yang ditulis sehingga pembaca bisa memahami benar apa isi tulisan itu. Meskipun pembaca belum mengetahui apa benar yang dikatakan penulis dalam tulisannya.

Kebanyakan informan yang penulis wawancarai terkait dengan adanya selebaran Jum`at atau bisa dikatakan bulletin Jum`at yang sering tersedia ketika menjelang shalat Jum`at disela-sela pintu masuk masjid dan itu tidak hanya satu melainkan banyak macamnya mulai dari iklan, pengumuman kegiatan, tapi yang sering penulis temukan adalah bulletin Jum`at. Ketika penulis bertanya dengan informan, apa yang anda ketahui mengenai bulletin Jum`at yang sering anda temui di depan pintu masjid-masjid ?

“ Bagi saya selebaran yang tersedia didepan pintu masjid menjelang shalat Jum`at, tidak lain hanya sebagai pengganti kejenuhan. Karena biasanya jama`ah itu ketika sudah di dalam masjid dan menunggu khotib mulai khotbahnya keumumannya pada tidur. Di desa-desa yang jauh dari kota mana mungkin ada selebaran seperti di masjid-masjid kota. Nah ketika saya melihat ada selebaran atau bulletin Jum`at yang tersedia di masjid-masjid, saya beranggapan itu sebagai media dakwah melalui tulisan, meskipun banyak mudharatnya (menggangu proses Jum`atan), meskipun kita ketahui diselebaran biasanya tersedia kolom yang khusus untuk memberitahukan kepada para pembaca dan biasanya di awal halaman di bawah sebelah kiri dengan seruan “ Jangan Dibaca saat Khatib sedang Berkhutbah”.

Wawancara dengan saudara Suwendi mahasiswa Ushuluddin, hari Jum`at 1 April 2011 jam; 12.30.

Makna Spontan : Sebuah Penutup

Setiap orang membaca mempunyai makna sendiri terkait dengan tulisan yang dibaca. Dalam tulisan lepas yang sering kita temui banyak ayat-ayat Al-Qur`an yang ditulis dengan spontan, karena keterbatasan waktu dan di mana dia menulis dan untuk siapa dia menulis. Makna yang terserat didalam tulisan tersebut sesuai dengan konteks audiens apa tulisan itu lucu, menarik, komunikatif dan bermakna. Dengan demikian ayat-ayat al-Qur`an sudah menjadi bagian dari retorika wicara; dalam artikel-artikel di koran, bulletin jum`at, majalah, jurnal, dan tulisan-tulisan lepas banyak ayat-ayat al-Qur`an dimaknai sesuai dengan konteks tulisan itu.

Tulisan yang sering kita temu diberbagai media yang berisikan diskusi keagamaan maupun non keagamaan, ilmiyah ataupun non ilmiyah, kadang dan sering tidak lepas dari kutipan dan sitiran ayat al-Qur`an yang dianggap relevan. Dan kebanyakan orang beranggapan bahwa membaca tidak harus formal, membuka tafsir dan terjemahan resmi, tetapi membaca dengan spontan kadang terasa lebih nikamt.[5]

Daftar Pustaka

 

Geertz, Clifford. 1981. “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa”. terj. Aswab Mahasin. Jakarta : Pustaka Java.

Makin, Al. 2002. “Anti Kesempurnaan : Membaca, Melihat dan Bertutur tentang Islam”. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 


[1] Clifford Geertz. 1981. “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa”. terj. Aswab Mahasin. Jakarta : Pustaka Java. hlm. 165.

[2] Istilah sekatenan sendiri diambil dari kata Syahadatain, berarti dua kalimah Syahadat, yang harus diucapkan orang Islam sebelum melakukan ibadah-ibadah yang lain dalam Islam.

[3] Clifford Geertz…….op,cit,. hlm. 168

[4]  Taufik R.Syam el-sundawi, Buletin Jum`at, Jendral Sudirman, edisi 102 Jum`at 23 Oktober 2009

[5] Al-Makin. 2002. “Anti Kesempurnaan : Membaca, Melihat dan Bertutur tentang Islam”. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Hlm. 90

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2012 in ARTIKEL

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: